Rabu, Juni 10, 2026

Alasan Pria Jawa Pelihara Perkutut, Bikin Tentram Jiwa Bahkan Dipercaya Mampu Lancarkan Rezeki

MELIHAT INDOENSIA – Keberadaan burung perkutut sangat penting dalam tradisi masyarakat suku Jawa, khususnya kaum pria. Memelihara Perkutut Jawa (Geopelia striata) di rumah, merupakan bagian dari kesempurnaan hidup.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut sejarah burung Perkutut menjadi bagian penting dalam kehidupan lelaki Jawa.

Burung perkutut, yang dianggap binatang sakral, selalu dikaitkan dengan mitos dan legenda Joko Mangu.

Masyarakat Jawa percaya bahwa pada zaman Kerajaan Majapahit, ada burung perkutut milik Prabu Brawijaya V yang merupakan jelmaan dari Pangeran Pajajaran bernama Joko Mangu.

Suatu hari, burung tersebut lepas dari sangkar. Namun, akhirnya berhasil ditemukan kembali oleh sang raja dalam perjalanannya di wilayah Yogyakarta, tepatnya di daerah Kretek, Bantul.

Berkaca pada kebiasaan Prabu Brawijaya yang memelihara perkutut, raja-raja Mataram (Islam) pun mulai melestarikan dan mentradisikan kekukututan (memelihara perkutut). Tradisi ini kemudian diterapkan dalam kehidupan Kraton Ngayogyakarta.

Perkutut digunakan sebagai lambang dalam ajaran falsafah Jawa hastabrata.

Merunut sejarahnya, tradisi memelihara perkutut di Tanah Jawa banyak dilakukan oleh kalangan ningrat, tokoh masyarakat, tokoh pemerintahan, dan saudagar kaya. Mereka meyakini bahwa hobi memelihara perkutut bisa mendatangkan ketentraman jiwa.

Mengutip Tangguhe Candrane lan Jamu Perkutut, karya B. Sarwono, “Manawa kasawang saka ilmu jiwa, ingon-ingon manuk perkutut iku ora baen-baen, sebab kajaba kalebu golongane “Seni Swara” uga murakabi marang panggulawentah sarta bisa mahanani katentreman.”

Artinya, jika dilihat dari ilmu jiwa, hobi memelihara perkutut bukan pekerjaan remeh. Selain tergolong “seni suara”, hobi ini bermanfaat untuk membina budi pekerti dan berpengaruh menciptakan ketenteraman hati.

Bagian lain buku tersebut menyebutkan, hasil nyata dari hobi memelihara perkutut bisa membebaskan orang dari keinginan yang tidak sesuai.

Kegemaran ini juga dapat menjauhkan seseorang dari setan yang senantiasa menggoda untuk melakukan hal buruk.

Salah satu falsafah Jawa mengungkapkan, bahwa seorang lelaki yang telah dewasa harus memiliki delapan unsur (Sapta Brata), yang salah satunya adalah kukila (manuk) atau burung.

Dalam Sapta Brata disebutkan kehidupan lelaki Jawa dianggap sempurna kalau sudah memiliki wanita (pasangan hidup) wisma (tempat tinggal), curiga (pusaka-keris), kukila (klangenan-perkutut), turangga (kuda-kendaraan), gangsa (perunggu-seperangkat alat musik gamelan), dan tiga unsur lainnya.

Karena itu banyak masyarakat Jawa yang memelihara burung perkutut dengan berbagai pertimbangan.

Juni 1990, burung perkutut pun dijadikan sebagai maskot Provinsi DIY.

Mengutip buku Beternak Perkutut Katuranggan atau Perkutut Warna (2018), kukila dalam Sapta Brata itu berarti manggung atau manuk anggung-anggungan. Ini mengacu pada wujud burung perkutut.

Kata manuk itu sendiri terdiri dari Ma (manjing) yang berarti masuk dan Nya (nyawa) yang berarti hidup. Melalui filosofi ini, masyarakat Jawa percaya bahwa burung perkutut dapat menghidupkan rezeki seseorang, menciptakan keharmonisan, dan ketentraman. (Tim)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.