MELIHAT INDONESIA – Malam itu, hutan Ketambe di Gunung Leuser tenggelam dalam kegelapan. Tak ada listrik, hanya suara alam yang bergema di antara pepohonan raksasa. Beberapa waktu kemudian, di belahan dunia yang berbeda, seorang perempuan yang sama berdiri di atas podium, berbicara di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dari belantara Sumatra hingga pertemuan internasional, perjalanan Tri Mumpuni adalah kisah tentang listrik, bukan sekadar cahaya, melainkan keberdayaan.
Tri Mumpuni, atau yang akrab disapa Puni, bukanlah seseorang yang tumbuh dalam kekurangan. Namun, hidupnya jauh dari sekadar mengejar kemapanan. Sebaliknya, ia memilih jalan yang penuh tantangan—membawa energi ke tempat yang tak tersentuh. Ia dikenal sebagai sosok di balik Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), solusi energi yang mengalirkan listrik ke desa-desa terpencil di seluruh pelosok Indonesia. Tak heran, dunia pun mengenalnya sebagai “Wanita Listrik”.
Keputusannya untuk mengabdikan diri pada pemberdayaan desa bukanlah sesuatu yang instan. Awalnya, Puni bekerja dalam berbagai program sosial, dari perumahan untuk kaum miskin hingga pemberdayaan perempuan. Namun, semuanya berubah ketika suaminya, Iskandar Budisaroso Kuntoadji, memintanya untuk membantu presentasi sebuah proposal pembangkit listrik mikrohidro.
“Mas Iskandar sudah memulai ini sejak 1987,” kenangnya. “Tapi jalannya sangat lambat.”
Tertarik dengan ide tersebut, Puni pun meninggalkan pekerjaannya dan bersama suaminya mendirikan Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) pada 1992. Sejak saat itu, mereka berkomitmen membawa listrik ke desa-desa terpencil, bukan hanya untuk menerangi, tetapi juga untuk mengangkat taraf hidup masyarakat.
Salah satu wilayah yang merasakan manfaat program ini adalah Desa Kamanggih di Sumba Timur, NTT. Sebelum PLTMH hadir, warga harus berjalan jauh ke lembah untuk mengambil air dan hanya mengandalkan cahaya pelita di malam hari. Kini, listrik tak hanya menerangi rumah mereka, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, dari pengolahan hasil pertanian hingga industri rumahan.
Konsep yang dibawa Puni dan Iskandar bukan hanya tentang membangun infrastruktur listrik, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat. Pembangkit listrik yang mereka bangun dikelola langsung oleh warga desa melalui sistem koperasi. Dengan listrik, desa-desa ini mendapatkan dana bersama yang digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dan berbagai kebutuhan sosial lainnya.
Menariknya, seluruh proyek yang mereka jalankan tidak menggunakan dana pemerintah. “Kami mengandalkan dana donor dan dukungan dari berbagai perusahaan melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR),” jelasnya.
Namun, jalan panjang ini tak selalu mulus. Pada 2008, di sebuah desa di Aceh, Puni dan suaminya mengalami peristiwa mengerikan. Mereka diculik oleh sekelompok orang yang meminta tebusan miliaran rupiah. “Kami disekap, tangan dan kaki dirantai, dan mereka meminta uang yang jelas tidak bisa kami penuhi,” kenangnya. Beruntung, negosiasi dengan warga setempat berhasil membebaskan mereka. Peristiwa itu sempat meninggalkan trauma, tetapi tak menyurutkan langkahnya untuk terus berjuang.
Dedikasinya tak hanya mendapat pengakuan di dalam negeri, tetapi juga di panggung dunia. Ia menerima berbagai penghargaan internasional, termasuk Climate Hero dari WWF, Ramon Magsaysay Award, dan Ashden Awards. Bahkan, Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama, menyebut namanya dalam sebuah pidato sebagai contoh wirausahawan sosial yang menginspirasi.
Namun bagi Puni, penghargaan bukanlah tujuan. “Listrik hanyalah alat. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangunkan potensi masyarakat desa,” ujarnya. Baginya, cahaya yang sesungguhnya bukanlah sekadar bohlam yang menyala, tetapi harapan dan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang selama ini terabaikan.
Dari sungai yang mengalir di pedalaman hingga panggung-panggung dunia, Puni telah membuktikan bahwa cahaya sejati tidak hanya datang dari listrik, tetapi juga dari hati yang bertekad untuk menerangi sesama. (**)