Sabtu, Juni 13, 2026

Ganjar dan Habib Luthfi Tekankan Ajaran Sesepuh dan Pendiri Bangsa

SURAKARTA – Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Maulana Al Habib Luthfi bin Ali bin Yahya dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajak seluruh masyarakat untuk mengingat kembali perjuangan pendiri bangsa saat mendirikan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di antaranya dengan saling menghormati dan menghargai kebhinekaan serta menyelami kembali filosofi sederhana yang diajarkan para sesepuh bangsa.

Hal itu disampaikan saat menghadiri acara Silaturahmi Kebhinekaan dan Doa Bersama dengan para tokoh lintas agama se-Solo Raya dalam rangka merajut Kebhinekaan dalam bingkai NKRI di Benteng Vastenburg, Surakarta.

Acara yang dihadiri para tokoh lintas agama itu juga dihadiri oleh Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Bakti Agus Fadjari, Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi, Wali Kota Surakarta Hadi Rudiatmo, dan tokoh-tokoh lainnya.

“Saya mengingat bahwa sesepuh kita telah memberikan contoh yang sangat sederhana tinggal kita ini mau menjabarkan apa yang dirintis dan dicontohkan dari para sesepuh. Sesepuh kita dulu mendidik dengan mengenal situasi dan kondisi, tidak cara vulgar karena akan merugikan. Tetapi melalui filosofi tinggi seperti sedekah bumi dan laut. Sudah menanamkan cinta tanah air sejak dari dulu. Kata Habib Luthfi-

Melalui filosofi itu, lanjut Habib Luthfi, kita dididik cara menghormati dan menghargai apa yang diciptakan Tuhan. Mulai bumi dan air kemudian menjadi tanah air, kelahiran Adam dan Hawa yang melahirkan banyak suku bangsa, serta diberikan tanah masing-masing yang kemudian dinamai negara. Semua itu bukan untuk dipandang semata tetapi untuk dipelajari dan dipahami sejauh mana kita mengenal suku bangsa yang ada di dunia ini.

“Kalau kita mengenal setiap suku bangsa di negeri ini maka tidak akan ada pertumpahan darah satu sama lain. Mencintai NKRI bukan hanya mencintai tanah dan laut tetapi apa yang diciptakan Tuhan,” ungkapnya.

Habib Luthfi mengatakan bahwa Ideologi Pancasila merupakan benteng kokoh NKRI. Ia mengibaratkan NKRI adalah laut luas yang memiliki harga diri dan pendirian luar biasa.

“Saya kagum kepada laut. Laut mempunyai harga diri yang luar biasa. Berapa banyak air sungai dengan limbah yang dibawanya masuk ke laut. Limbah bisa disingkirkan dengan gelombang dan irama ombak yang halus. Berapa pun banyak air tawar dari sungai tetapi tidak bisa mengubah rasa asin laut. Laut pun punya pendirian yang luar biasa,” katanya.

“Nasionalisme kita tumbuh luar biasa. Negara kita punya ideologi Pancasila, itu benteng kokoh kita,” lanjut Habib Luthfi.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga mengajak masyarakat mengingat kembali masa-masa tahun 1928 hingga 1945. Bagaimana anak-anak muda dari berbagai daerah dengan perbedaan suku dan agama bersatu untuk menggelorakan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Kemudian hasilnya baru dirasakan pada 17 Agustus 1945 di mana Indonesia merdeka dari penjajah.

“Di situ, tokoh agama, politisi, putra-putri dari berbagai suku hadir dan berembug. Maka kontribusinya banyak. Saya ingin mengajak memori kita kembali ke masa itu untuk mengingat bahwa Indonesia harus berdiri dengan landasan yang kokoh, pondasi harus kuat. Maka lahirlah Pancasila dari hasil menggali dan mencari sendiri dari bumi pertiwi,” katanya saat memberikan sambutan. “Maka kita harus hormati dan hargai Kebhinekaan itu dan bersatu

-Ganjar Pranowo-

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.