Sabtu, April 18, 2026

Indonesia dan Dunia Menghadapi Tantangan Deflasi dan Penurunan Daya Beli di Akhir 2024

MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Indonesia mengalami deflasi selama empat bulan berturut-turut sejak Mei 2024, dengan angka yang fluktuatif namun tetap menunjukkan tren penurunan. Pada Mei 2024, deflasi tercatat sebesar 0,03% secara bulanan (month to month/mtm), diikuti oleh 0,08% pada Juni, 0,18% pada Juli, dan kembali turun menjadi 0,03% pada Agustus 2024. Fenomena deflasi ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga melanda negara-negara dengan ekonomi besar seperti China dan Amerika Serikat.

Menurut laporan Monthly Economic Briefing BCA September 2024, yang disusun oleh Ekonom Senior BCA Barra Kukuh Mamia dan Ekonom BCA Nicholas Husni, rendahnya inflasi global yang berujung pada deflasi, serta penurunan permintaan konsumen, mencerminkan tren melemahnya ekonomi global. Negara-negara seperti China dan Amerika Serikat juga mengalami inflasi yang menurun, yang berdampak pada tekanan harga produsen di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Di China, kelebihan pasokan yang melimpah di pasar global telah menekan harga produsen, yang kemudian berdampak pada penurunan harga impor di Indonesia. Di Amerika Serikat, inflasi yang rendah memicu ekspektasi penurunan suku bunga, yang memperkuat nilai tukar rupiah dan semakin menekan inflasi impor di Indonesia.

Data Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur yang menunjukkan zona kontraksi atau di bawah 50 di negara-negara tersebut, termasuk Indonesia, mencerminkan melemahnya permintaan global. “Data PMI yang dirilis kemarin mengonfirmasi gambaran suram di negara-negara tersebut, seperti Tiongkok, AS, Zona Eropa, dan Jepang, yang semuanya berada di bawah 50. PMI Manufaktur di Indonesia juga berada di zona negatif,” tulis Barra dan Nicholas dalam laporan mereka.

Di dalam negeri, deflasi sebesar 0,03% pada Agustus 2024 terutama dipicu oleh penurunan harga pangan bergejolak, seperti bawang merah dan ayam, sementara harga yang diatur pemerintah mengalami kenaikan, terutama pada BBM non-subsidi. Meskipun komponen inflasi inti meningkat sebesar 0,20% secara bulanan akibat kenaikan biaya pendidikan dan barang keperluan pribadi, tim ekonom BCA memperkirakan inflasi keseluruhan tahun ini hanya akan mencapai 1,7% jika kenaikan tersebut dikecualikan.

Namun, deflasi ini mencerminkan kondisi daya beli masyarakat yang tengah tertekan. Data indeks pengeluaran konsumen BCA juga menunjukkan kontraksi selama Juli-Agustus 2024, menandakan bahwa masyarakat semakin hati-hati dalam pengeluaran mereka. “Kurangnya katalis pertumbuhan dan inflasi yang terus rendah membuat pelonggaran moneter semakin mungkin, namun Bank Indonesia mungkin memprioritaskan pelepasan SRBI dan mungkin menunda pemotongan suku bunga awal hingga kuartal IV,” tambah Barra dan Nicholas.

Dengan tren deflasi yang terus berlanjut dan daya beli masyarakat yang tertekan, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi menjelang akhir tahun 2024. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi masalah ini guna memastikan perekonomian tetap tumbuh dan tidak terjebak dalam stagnasi yang berkepanjangan. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.