MELIHAT INDONESIA, SURABAYA – Food blogger, dengarkan baik-baik. Bukan cuma soal rasa, tapi soal tanggung jawab. King Abdi, kreator konten yang juga dikenal sebagai peserta MasterChef Season 10, buka suara soal tren review makanan yang kerap menghancurkan usaha kuliner kecil.
Menurutnya, ada sosok legendaris yang harusnya jadi panutan—mendiang Bondan Winarno. Dengan gaya santun namun berisi, Bondan mampu menyampaikan penilaian tanpa menjatuhkan siapa pun.
“Bahkan seorang almarhum Pak Bondan Winarno pun cukup dengan ‘Maknyus’, enak,” ujar King Abdi dalam tayangan di kanal YouTube KasiSolusi, Kamis (17/4/2025).
Bukan hanya soal kata-kata, tapi soal sikap. Bondan dikenal sebagai sosok yang tidak pernah menggunakan kalimat kasar. Setiap ucapan punya makna, tapi tetap ramah pada pelaku usaha.
“Orang udah tahu, Pak Bondan kalau udah bilang ‘Maknyus’ itu berarti enak banget. Kalau ‘lekoh’ itu standar, lumayan enak. Tapi kalau dia bilang ‘ini cukup sedep’ itu berarti biasa,” jelas King Abdi.
Sayangnya, tak semua mengikuti jejak tersebut. Banyak food vlogger yang dengan enteng menyemburkan kalimat pedas, tanpa berpikir panjang soal dampaknya pada pemilik usaha.
“Wong yang datang kamu, kamu makan, kamu butuh kontenan, kok kamu mau menghancurkan usaha orang? Ngapain?” kata Abdi dengan nada kecewa.
Baginya, review jujur bukan berarti menyakiti. Apalagi di tengah perjuangan berat para pelaku UMKM kuliner, setiap kritik bisa jadi pukulan telak yang mematikan.
“Kalau kita melukai usaha orang, dari sisi mana pun kan kita enggak tahu, orang itu segimana dia membentuk usaha itu kita enggak tahu, modalnya darimana,” ujarnya.
“Dari situ dia menampung berapa lambung pekerja untuk bisa digaji. Kalau kita tiba-tiba bilang makanan itu enggak enak, orang apakah mau beli?” lanjutnya.
Bagi Abdi, food vlogger harus sadar bahwa kehadiran mereka di sebuah warung bukan hanya untuk konten semata. Tapi juga soal adab dan etika menghargai kerja keras orang lain.
Ia menegaskan bahwa konten seharusnya membangun, bukan merusak. Kritik boleh, tapi harus konstruktif, bukan membunuh perlahan dari balik kamera.
King Abdi juga menyinggung tren “review jujur” yang marak belakangan. Banyak dari mereka justru membuka aib penjual hanya demi sensasi dan klik.
“Cerita kebusukan jualan orang buat apa?” sindirnya tajam dalam salah satu pernyataan yang dikutip media daring.
Menurutnya, jika ingin membantu konsumen, sampaikan secara elegan. Karena dampak dari satu video bisa menghancurkan harapan satu keluarga.
Pak Bondan, yang wafat pada 29 November 2017 karena kelainan jantung, dikenang bukan hanya karena slogannya yang khas, tapi juga karena kelembutannya dalam menyampaikan rasa.
Sebagai penulis, wartawan, dan pelopor komunitas Jalansutra, Bondan adalah simbol kuliner yang menghargai cita rasa dan manusia di baliknya.
King Abdi berharap, generasi food blogger saat ini bisa belajar dari sosok Bondan. Menjadi jujur tanpa harus menyakiti. Memberi kritik tanpa menjatuhkan.
“Saya cuma ingin ingatkan, kontenmu jangan jadi senjata pembunuh. Karena di balik piring itu, ada air mata dan doa,” tutup King Abdi. (**)