Jumat, April 17, 2026

Kasus Chat Mesum FH UI Meledak, HR Beberkan Dampaknya ke Dunia Kerja

Kasus dugaan pelecehan seksual verbal yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) tengah menjadi sorotan. Perilaku tidak pantas tersebut diduga dilakukan melalui percakapan dalam grup WhatsApp, yang kini memicu kekhawatiran terkait dampaknya terhadap masa depan para pelaku.

Praktisi HR dan Konsultan Sumber Daya Manusia (SDM), Audi Lumbantoruan menilai keterlibatan dalam kasus semacam ini bisa memengaruhi peluang kerja seseorang ke depan, meskipun tidak sepenuhnya menutup kemungkinan.

“Kasus UI jadi pertimbangan besar buat perusahaan atau organisasi mempertimbangkan kandidat yang terjerat kasus tersebut. Masalah ini kan sudah masuk ranah hukum, reputasi pasti kena dampaknya,” kata Audi kepada detikcom, Selasa (14/4/2026).

Ia menjelaskan, perusahaan cenderung berhati-hati dalam merekrut karyawan, terutama di era saat ini yang sangat memperhatikan rekam jejak kandidat. Reputasi dan kepercayaan menjadi faktor penting dalam proses seleksi.

“Peluang masih ada tetapi agak berat ya, bukan berarti nggak bisa dapat kerja. Itu akan membutuhkan lebih banyak waktu dan usaha pastinya. Perusahaan atau organisasi akan menghindari risiko merekrut calon pegawai yang memiliki masa lalu yang terjerat kejahatan,” ucap Audi.

Pandangan serupa disampaikan oleh Praktisi HR sekaligus Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI), Ivan Taufiza. Ia menekankan bahwa dampak kasus tersebut terhadap peluang kerja sangat bergantung pada keputusan akhir dari pihak universitas.

“Pengaruhnya ada atau tidak, sudah pasti ada. Yang perlu dilihat posisi atau kejelasan dari institusi. UI dalam hal ini, itu keputusannya seperti apa. Contoh kalau semua berdamai, ya nggak masalah juga secara prinsip. Kalau output-nya berbeda, misalnya ribut segala macam, ya otomatis berbeda, apalagi ada putusan hukum dan seterusnya,” jelas Ivan.

Ivan juga menyoroti pentingnya rekam jejak digital dalam proses rekrutmen. Menurutnya, perusahaan umumnya melakukan penelusuran latar belakang kandidat, baik untuk posisi tinggi maupun level operasional.

“Posisi-posisi tertentu itu bahkan dari awal sekali sudah diseleksi, sudah dicek, sudah diperiksa. Kalau level direksi ke atas, itu sudah pasti. Manager level ke atas, itu pasti dicek apakah dia pernah berperkara atau enggak,” tutur Ivan.

“Untuk posisi-posisi di lapangan, operator di pabrik dicek apakah dia sebelumnya terlibat di serikat pekerja secara aktif, atau pernah demo anarkis, hal-hal kayak gitu dilakukan. Sales juga dicek karena ada isu integritas, jualannya benar nggak sih atau mis-selling,” tambahnya.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa perilaku di ruang digital dapat berdampak luas, tidak hanya secara hukum tetapi juga terhadap masa depan karier seseorang.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.