Keluarga korban ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, sempat menerima santunan dari pihak pesantren. Namun, uang santunan itu akhirnya diputuskan untuk dikembalikan.
Dewan Pengasuh Pesantren Al-Khoziny, KHR Muhammad Ubaidillah Mujib, menyebut santunan diberikan sebagai bentuk duka cita sekaligus permohonan maaf atas tragedi yang menewaskan puluhan santri tersebut.
“Kami turut berbela sungkawa. Semoga almarhum Sholeh wafat dalam keadaan husnul khotimah, karena meninggal saat salat dan dalam posisi sebagai penuntut ilmu,” ujar pria yang akrab disapa Kiai Mamad, Senin (6/10/2025), dilansir detikJatim.
Ia menjelaskan, santunan itu juga diberikan sebagai pengganti biaya kargo untuk pemulangan jenazah korban ke kampung halamannya, termasuk almarhum Sholeh, santri asal Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka.
Namun, santunan itu akhirnya dikembalikan oleh keluarga korban. Abdul Fattah, kakak Sholeh, mengaku hal tersebut dilakukan bukan karena menolak niat baik pesantren, melainkan demi mendapatkan rida para kiai dan guru.
“Kami tidak mau menerima santunan itu bukan karena apa-apa, hanya ingin mendapatkan ridanya kiai dan guru di pesantren. Semoga doa dan ridho beliau menjadi keberkahan bagi almarhum dan keluarga kami yang ditinggalkan,” ungkap Abdul.
Tragedi ambruknya bangunan musala Ponpes Al Khoziny terjadi pada Senin (29/9) saat salat asar. Ratusan santri terjebak dalam reruntuhan, sebagian berhasil diselamatkan, namun puluhan lainnya ditemukan tewas. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sempat mencatat hingga Minggu (5/10) pukul 21.00 WIB, korban berjumlah 156 orang, terdiri dari 104 selamat dan 52 meninggal dunia termasuk 5 bagian tubuh.
Memasuki hari ke-9 pencarian, Selasa (7/10), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi menutup operasi. Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, memimpin apel penutupan di selasar gedung lama pesantren sekaligus memberikan penghargaan kepada seluruh unsur SAR yang terlibat.
“Dengan demikian operasi pencarian dan pertolongan korban resmi saya tutup,” kata Syafii.
Syafii menyampaikan bahwa seluruh area reruntuhan sudah dibersihkan dan dipastikan tidak ada lagi korban yang tertinggal. “Kegiatan yang telah dilaksanakan sejak tanggal 29 September dan hari ini masuk di hari ke-9 kita telah menyelesaikan pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan terhadap korban dan kita juga telah bisa memindahkan seluruh material bangunan yang runtuh,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa meski operasi Basarnas berakhir, pengawasan pascakejadian masih menjadi tanggung jawab BNPB bersama pemerintah daerah.
“Pada saat Badan SAR Nasional selesai melaksanakan tugas di sini, lokasi ini masih disupervisi langsung oleh BNPB. Terima kasih atas sinerginya selama ini. Mudah-mudahan apa yang sudah dilakukan teman-teman juga tidak sia-sia,” kata Syafii.
Hingga akhir operasi pencarian, Basarnas mencatat total korban sebanyak 171 orang. Rinciannya, 104 selamat dan 67 meninggal dunia, termasuk 8 bagian tubuh. Syafii menutup dengan pesan bahwa kerja keras tim gabungan selama sembilan hari penuh adalah bentuk pengabdian dan amal ibadah.
“Artinya, menjadi bagian amal ibadah dari teman-teman untuk bisa menyampaikan bahwa apa yang sudah dilakukan oleh teman-teman rescue tersampaikan ke publik,” ucapnya.