Sabtu, Maret 7, 2026

Kontribusi Sawit Bisa Melandai, Pemerintah Siapkan Jurus Keberlanjutan dan Hilirisasi

Kelapa sawit masih menjadi penyumbang PDB terbesar di sektor pertanian Indonesia. Data Ditjen Perkebunan mencatat luas sawit mencapai 16,83 juta hektar dengan estimasi produksi 48,12 juta ton CPO pada 2025. Namun, pemanfaatan kapasitas produksi baru sekitar 67 persen.

Produktivitas sawit rata-rata 3,6 ton per hektar, tertinggi dibanding minyak nabati lain. Untuk menghasilkan satu ton CPO per tahun, sawit hanya membutuhkan 0,26–0,3 hektar lahan. Industri ini juga menyerap 9,7 juta tenaga kerja langsung dan 6,8 juta tidak langsung.

Direktur Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian, Hendratmojo Bagus Hudoro, menegaskan pentingnya keberlanjutan.

“Yang kita ini sekarang nikmati itu merupakan perjalanan panjang sejak 1980-an, di mana kita sudah menginisiasi pembangunan kebun kelapa sawit dengan pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat). Yang kami pertimbangkan, bagaimana bisa menjamin keberlanjutan. Kata kuncinya, password-nya, sekarang adalah keberlanjutan,” kata Hendratmojo di Jakarta, Senin (2/3/2026).

“Kalau hanya bangga dengan capaian sekarang tanpa mempertimbangkan keberlanjutan eksistensi sawit kita, ini khawatir suatu saat kurvanya (kontribusi PDB) mengalami penurunan,” tambah dia.

Pemerintah menerapkan mandatori ISPO dengan tujuh prinsip, mulai dari kepatuhan hukum hingga peningkatan usaha berkelanjutan.

Di sisi lain, hilirisasi terus didorong agar Indonesia tak hanya bergantung pada ekspor CPO mentah, tetapi juga mengembangkan produk turunan seperti pangan olahan, farmasi, hingga biodiesel.

“Artinya, kita tidak hanya puas dengan produk hulu, tetapi kita harus meningkatkan produk hilir. Kalau berkembang di hilir, seperti farmasi, pasti akan membutuhkan tenaga kerja, ” tutur Hendratmojo.

“Sekarang B35 ke B40 ya, bahkan sudah diupayakan akan ke B50 ini di tahun 2030. Ke depannya tidak menutup kemungkinan B100 akan diproduksi dan itu sudah pernah dicoba dan berhasil. Tinggal kita modifikasi saja sebenarnya,” ucapnya.

Sementara itu, BPDP menghimpun Rp 31,5 triliun pada 2025 untuk mendukung PSR seluas 43.590 hektar, insentif biodiesel 6,9 juta kiloliter, pengembangan SDM 19.939 orang, serta 147 riset.

“Nah, riset-riset inilah yang terus kami dorong untuk menghasilkan technology readiness level (TRL/tingkat kesiapan teknologi) itu sudah level di atas 7,” ujar Nugroho.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.