MELIHAT INDONESIA, TOKYO – Di tengah ketegangan dengan Tiongkok di Laut China Timur, Amerika Serikat (AS) malah menarik pulang kapal induk bertenaga nuklir, USS Ronald Reagan, dari pangkalannya di Yokosuka, Jepang.
Dilansir Associated Press, dengan dikawal dua kapal perusak berpeluru kendali, USS Robert Smalls dan USS Howard, kapal induk kelas Nimitz itu meninggalkan pelabuhan pada Kamis (16/5/2024), setelah hampir sembilan tahun penempatan di Indo-Pasifik.
Kapal ini nantinya digantikan kapal induk kelas Nimitz lainnya, USS George Washington, akhir 2024.
Berbicara pada upacara pelepasan, Duta Besar AS untuk Jepang Rahm Emanuel memastikan “transisi yang mulus.”
“USS Ronald Reagan dan krunya telah memastikan bahwa jutaan orang di seluruh Indo-Pasifik dapat menjalani hidup mereka bebas dari paksaan, agresi, dan penindasan,” kata Emanuel kepada wartawan.
USS Ronald Reagan pertama kali tiba di Yokosuka pada tahun 2015. Sebelumnya, selama penempatannya di dekat Semenanjung Korea, kapal induk tersebut berkontribusi dalam operasi kemanusiaan Tomodachi, menyusul gempa bumi, tsunami, dan bencana nuklir tahun 2011 di timur laut Jepang.
USS Ronald Reagan adalah satu-satunya kapal induk Amerika yang ditempatkan secara permanen di luar AS.
Selain ketegangan meningkat di Laut Cina Selatan antara Tiongkok dan Filipina serta sejumlah negara lain -termasuk Indonesia- terkait sengketa maritim dan wilayah, Jepang juga berselisih dengan Tiongkok mengenai pulau-pulau tak berpenghuni di Laut Cina Timur.
Mantan Menteri Pertahanan Jepang, Tomomi Inada, yang baru-baru ini mengikuti perjalanan survei lingkungan hidup di dekat kepulauan Senkaku yang disengketakan, yang oleh Beijing disebut Diaoyu, mengatakan bahwa kerja sama A.S. dan negara-negara lain yang berpikiran sama adalah kunci untuk mempertahankan tatanan internasional.
“Kami merasakan urgensi untuk tidak membiarkan Laut Cina Timur menjadi Laut Cina Selatan lainnya,” katanya.
Pendaratan di pulau-pulau tersebut tidak diperbolehkan, sehingga rombongan Inada menerbangkan drone untuk survei lahan dan vegetasi di wilayah tersebut. Beijing memprotes perjalanan tersebut.
Inada mengatakan para ahli harus bisa mendarat di wilayah Jepang untuk melakukan penelitian. (tim)