Kamis, April 30, 2026

Mas Dhito Luncurkan Wastra Baru Pakaian Khas Kediri, Adaptasi Desain Baru Tak Tinggalkan Pakem

MELIHAT INDONESIA, KEDIRI – Pemerintah Kabupaten Kediri kembali meluncurkan Wastra Pakaian Khas Kediri pada momentum Hari Jadi Kabupaten Kediri ke-1220. Pakaian khas terbaru ini tetap mengusung motif lidah api serta menampilkan nuansa warna merah.

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menyebutkan, meski menampilkan adaptasi desain baru, namun tidak meninggalkan pakem-pakem yang dulu telah dikaji oleh pakar budaya.

“Wajah baru (pakaian khas) ini dilakukan supaya kita punya beberapa desain yang ketika bandara sudah buka kita bisa menyambut para tamu dengan berbagai macam desain,” terang bupati yang akrab disapa Mas Dhito pada prosesi hari jadi, Senin (25/3/2023).

Sebagaimana Pakaian Khas Wdihan dan Ken Kadiri, yang diluncurkannya dua tahun lalu, motif lidah api, padma teratai, serta motif dua gunung yang melambangkan Wilis dan Kelud masih menjadi corak pakem.

Terkait filosofi wastra baru pakaian khas ini, kata Mas Dhito, tidak mengalami perubahan bila dibanding dengan pakaian terdahulu.

Pihaknya terus berupaya mendorong masyarakat untuk menggunakan pakaian khas yang ada.

Hal ini, lanjut Mas Dhito, bisa membuat pakaian khas ini menjadi sebuah pakaian adat jika masif dipakai pada berbagai acara dalam waktu yang panjang.

“Maka saya minta warga Kabupaten Kediri bisa menggunakan pakaian khas yang ada, biar suatu saat nanti, sepuluh limapuluh atau seratus tahun lagi bisa menjadi pakaian adat,” terang bupati berkacamata tersebut.

Senada dengan Mas Dhito, Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK4), Imam Mubarok menuturkan agar pakaian khas ini menjadi pakaian adat, masyarakat harus konsisten menggunakannya.

Rentan waktu penggunaannya, katanya, bisa memakan waktu hingga lima puluh tahun. Pihaknya juga menegaskan, agar dalam penggunaan dua pakaian khas ini bisa berkelanjutan.

Gus Barok, sapaanya, juga mengajak masyarakat untuk lebih memprioritaskan penggunaan pakaian khas Kabupaten Kediri daripada pakaian khas daerah lain. Sehingga cita-cita menjadikan pakaian khas menjadi pakaian adat tersebut bisa terwujud.

“Bagaimana kita bersama-sama ikut merasa handuweni hangrungkepi, dan bagaimana kita harus melestarikan,” katanya.

Salah satu cara yang sudah dilakukan, lanjutnya, adalah diwajibkannya penggunaan Wdihan dan Ken Kadiri pada ASN lingkup Pemerintah Kabupaten Kediri pada Kamis di minggu pertama setiap bulannya. (*)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.