MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Menjelang datangnya bulan Ramadhan, umat Islam di Indonesia bersiap menyambut bulan suci dengan berbagai tradisi dan persiapan ibadah. Salah satu hal yang selalu dinantikan adalah penetapan awal puasa yang sering kali berbeda antara pemerintah, organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, serta komunitas keagamaan tertentu seperti jemaah Aboge di Banyumas. Perbedaan ini muncul karena adanya metode yang beragam dalam menentukan awal bulan Ramadhan.
Dasar Kewajiban Puasa dalam Islam
Puasa Ramadhan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Metode NU dalam Menentukan Awal Ramadhan
NU menetapkan awal Ramadhan dengan metode rukyatul hilal bil fi’li, yakni dengan mengamati langsung keberadaan hilal di langit. Jika hilal tampak, maka bulan baru dimulai, sedangkan jika tidak terlihat, maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).
Secara astronomi, pada 28 Februari 2025, hilal diprediksi berada pada ketinggian antara 3,02° hingga 4,69° dengan elongasi antara 4,78° hingga 6,4°. Apabila hilal tidak terlihat, maka NU diperkirakan akan menetapkan awal Ramadhan pada Ahad, 2 Maret 2025.
Muhammadiyah, Awal Puasa 1 Maret 2025
Sementara itu, Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan dengan metode hisab hakiki wujudul hilal. Jika hilal sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, maka bulan baru dimulai tanpa perlu menunggu konfirmasi rukyat.
Menurut Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025, 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025. Perhitungan ini berdasarkan:
Ijtimak terjadi pada Jumat, 28 Februari 2025, pukul 07:46 WIB.
Saat matahari terbenam di Yogyakarta, hilal sudah berada di ketinggian +4° 11′ 08”.
Di seluruh wilayah Indonesia, bulan sudah berada di atas ufuk.
Dengan demikian, Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan tanpa menunggu hasil pengamatan hilal.
Keputusan Pemerintah melalui Sidang Isbat
Pemerintah Indonesia menentukan awal Ramadhan melalui sidang isbat yang melibatkan Kementerian Agama, MUI, BMKG, ahli falak, serta ormas Islam.
Sidang isbat 2025 dijadwalkan pada Jumat, 28 Februari 2025. Secara astronomi, ijtimak terjadi pukul 07:44 WIB dengan ketinggian hilal berkisar antara 3° 5,91′ hingga 4° 40,96′ dan elongasi 4° 47,03′ hingga 6° 24,14′. Jika hilal terlihat, awal puasa kemungkinan jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025. Namun, jika tidak, keputusan akan bergantung pada hasil musyawarah dalam sidang tersebut.
Jemaah Aboge: Awal Ramadhan pada 2 Maret 2025
Di Banyumas, jemaah Aboge menggunakan sistem kalender Jawa Islam dalam menentukan awal Ramadhan. Metode ini memiliki pola perhitungan yang berbeda dari hisab dan rukyat.
Menurut Akim, seorang tokoh masyarakat Aboge di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, awal Ramadhan 1446 H jatuh pada Minggu Pon, 2 Maret 2025. Hal ini didasarkan pada rumus “Sanemro” (Selasa Nanem Loro), yang mengacu pada penanggalan Aboge.
Potensi Perbedaan Awal Puasa
Dengan adanya perbedaan metode, awal Ramadhan di Indonesia dapat berbeda:
Muhammadiyah menetapkan awal puasa pada Sabtu, 1 Maret 2025.
Pemerintah dan NU menunggu hasil rukyat pada 28 Februari 2025. Jika hilal tidak terlihat, awal puasa jatuh pada Ahad, 2 Maret 2025.
Jemaah Aboge menetapkan awal Ramadhan pada Ahad, 2 Maret 2025.
Meskipun terdapat perbedaan, umat Islam diharapkan tetap menjaga toleransi dan menghormati setiap keputusan yang diambil oleh masing-masing pihak. Yang terpenting adalah semangat ibadah dan kebersamaan dalam menjalani bulan suci Ramadhan.(**)