MELIHAT INDONESIA, MADURA – Dalam gemuruh musik gamelan khas Madura, sapi-sapi dihias dan diarak dengan penuh bangga, memasuki arena pacuan. Sambil menunjukkan otot-otot mereka yang bertenaga, para sapi ini juga memamerkan keindahan pakaian (ambhin) dan aksesori beraneka warna yang menghiasi tubuh mereka. Setelah parade, semua pakaian dan aksesori dilepas, kecuali hiasan kepala (obet) yang melambangkan rasa percaya diri dan kekuatan sapi. Segera setelah itu, perlombaan dimulai dengan semangat dan kegembiraan.
Debu berterbangan saat sepasang sapi yang mengenakan kaleles—sarana untuk menaiki tukang tongkok (jockey atau sais)—melaju dengan cepat. Adu kecepatan pun berlangsung melawan pasangan sapi lainnya. Kaleles beberapa kali melayang di udara, sementara si joki berusaha mengendalikan dan menunjukkan keterampilannya. Sorak-sorai penonton semakin menambah semaraknya perlombaan.
Akar Tradisi yang Dalam
Inilah karapan sapi, atraksi budaya dan permainan tradisional yang khas bagi masyarakat Madura, Jawa Timur. Asal-usul tradisi ini belum sepenuhnya jelas. Namun, sapi memiliki makna yang mendalam bagi orang Madura.

Sulaiman, dalam bukunya Karapan Sapi di Madura, menjelaskan bahwa masyarakat Madura meyakini adanya raja di antara sapi. Raja sapi betina berada di Desa Gadding, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep, sedangkan raja sapi jantan ada di Sapudi, sebuah pulau di timur Madura. Sejak ratusan tahun lalu, sapi betina di Gadding dirawat dengan baik dan dikenal berkualitas. Dari daerah ini muncul kontes sapi betina yang dikenal dengan istilah sape pajangan atau sape sono. Sementara Sapudi terkenal menghasilkan sapi jantan unggulan yang digunakan dalam perlombaan.
Perkembangan Sejarah
Pemeliharaan sapi di Sapudi dimulai oleh Penembahan Wlingi (Wirobroto) pada abad ke-14, yang dilanjutkan oleh anaknya, Adipoday. Pada masa itu, pertanian mengalami kemajuan pesat. Para petani membajak sawah dengan bergembira, mengadakan perlombaan cepat selesai. Dari sinilah muncul istilah garaban, berasal dari kata “garab” yang berarti kerja cepat.
Berbagai versi menjelaskan asal mula tradisi karapan sapi. Salah satunya menyebutkan peranan Kyai Pratanu, yang menyebarkan Islam melalui karapan sapi pada akhir abad ke-16. Sementara itu, cerita tutur di Sumenep mengaitkannya dengan Syekh Ahmad Baidawi (Pangeran Katandur), seorang mubaligh dari Kudus pada abad ke-17. Ia mengajarkan cara bercocok tanam, dan sebagai ungkapan syukur, diadakan pacuan sapi sebagai hari persahabatan (berkirabah).
Evolusi Tradisi
Seiring berjalannya waktu, pacuan sapi berkembang menjadi atraksi budaya yang disukai masyarakat. Namun, Sumintarsih dalam bukunya Makna Sapi Kerapan Dari Perspektif Orang Madura mengungkapkan bahwa sejak 1970-an, fungsi karapan sapi mulai bergeser. Dari yang dulunya sebagai hiburan dan alat komunikasi, kini perlombaan mulai terorganisir. Sapi yang digunakan dalam perlombaan menjadi simbol status sosial.
Dalam karapan sapi, status sapi berubah menjadi hewan pacuan, bukan lagi sebagai alat pertanian. Menurut Sumintarsih, hewan sapi kini dianggap sebagai hewan aduan, dan bukan lagi dipakai untuk pekerjaan pertanian.
Berbagai Jenis Karapan Sapi
Karapan sapi terdiri dari beberapa jenis, yaitu kerap keni (kerapan kecil), kerap raja (kerapan besar), kerap onjangan (kerapan undangan), kerap karesidenan (kerapan tingkat karesidenan), dan kerap jar-jaran (kerapan latihan). Kerap keni diikuti oleh sapi-sapi kecil yang belum terlatih dari satu kecamatan. Pemenangnya dapat melanjutkan ke kerap raja, yang diadakan dua kali di ibu kota kabupaten untuk memperebutkan Piala Bupati. Para pemenang kerap raja kemudian bertanding untuk memperebutkan Piala Presiden yang prestisius.
Kerap onjangan diadakan untuk memperingati hari-hari besar atau syukuran. Kerap karesidenan diadakan di Kota Pamekasan dengan peserta dari empat kabupaten sebagai penutup musim kerapan. Sementara kerap jar-jaran bertujuan melatih sapi-sapi pacuan sebelum turun ke arena.
Simbol Kebanggaan Masyarakat Madura
Bagi sebagian besar masyarakat Madura, karapan sapi bukan sekadar festival rakyat atau warisan budaya. Karapan sapi menjadi simbol kebanggaan yang meningkatkan harkat dan martabat masyarakat Madura. Sapi-sapi yang digunakan adalah sapi-sapi berkualitas tinggi yang mendapat perawatan istimewa dari pemiliknya.
Pemilihan sapi sangat krusial. Sapi yang cocok untuk karapan biasanya dikenali sejak berusia 3-4 bulan. Sejak usia 10 bulan, sapi mulai dilatih, diberi jamu, dipijat, dan dimandikan hingga siap untuk berlaga.
Tantangan dan Kontroversi
Namun, dalam perjalanan tradisi ini, berbagai cara dilakukan demi meraih kemenangan, termasuk menyewa dukun. Harga diri pemilik sapi dipertaruhkan, dan kemenangan berarti hadiah serta uang taruhan. Namun, jika kalah, harga diri pemilik jatuh dan mereka kehilangan uang yang tidak sedikit, mengingat perawatan sapi tergolong mahal.
Kontroversi juga muncul terkait kekerasan terhadap sapi dalam perlombaan, yang dikenal dengan istilah rekeng—melecut sapi dengan cambuk berpaku agar berlari cepat. Menurut Sumintarsih, terdapat dua versi pelaksanaan karapan sapi, yakni pakem lama yang menggunakan rekeng, dan pakem baru yang diusulkan oleh pecinta hewan dan budayawan.
Masa Depan Karapan Sapi
Pemerintah telah berupaya mengimbau agar tidak ada kekerasan dalam karapan sapi. Saat ini, karapan sapi yang memperebutkan Piala Presiden diadakan tanpa kekerasan. Karapan sapi tetap menjadi pagelaran unik yang terjaga hingga kini. Event ini telah menjadi ikon Madura dan menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Karapan sapi, dengan segala tradisinya, mencerminkan semangat dan kebanggaan masyarakat Madura. (**)