Pemerintah mulai mengambil langkah serius untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) berbasis bioetanol.
Upaya ini diharapkan tidak hanya mendukung kemandirian energi, tetapi juga membuka peluang industri baru yang berbasis bahan baku lokal seperti tebu dan sagu.
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menyebut, saat ini tersedia sekitar 240.000 hektar lahan siap pakai di 18 provinsi yang potensial untuk pengembangan tanaman penghasil bioetanol.
Menurut Nusron, angka tersebut masih bisa meningkat karena pemerintah tengah memetakan lahan tambahan untuk mencapai target 1 juta hektar.
Ia menjelaskan bahwa proses identifikasi terus dilakukan agar potensi di berbagai daerah bisa dioptimalkan secara terarah dan berkelanjutan.
Pemerintah juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk mempercepat ketersediaan lahan dan memastikan bahan baku bioetanol mencukupi kebutuhan industri.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai dua wilayah memiliki potensi besar dalam pengembangan pabrik bioetanol, yaitu Merauke di Papua dan Jawa Timur.
Kedua daerah tersebut memiliki pasokan bahan baku melimpah.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menyebut bahwa Jawa Timur saat ini menjadi wilayah paling potensial karena memiliki sumber molase yang besar, hasil samping dari industri gula yang dapat diolah menjadi etanol.
Selain berbasis tebu, pemerintah juga tengah meninjau pengembangan bioetanol dari sagu yang banyak ditemukan di kawasan timur Indonesia.
Wilayah seperti Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera dinilai memiliki potensi besar sebagai sentra produksi baru.
Kajian ini melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menilai efisiensi dan keberlanjutan produksi etanol dari berbagai bahan baku lokal.
Rencana pembangunan pabrik etanol milik PTPN III (Persero) di Jawa Timur juga menjadi bagian penting dari strategi nasional ini.
Pemerintah melalui Kemenperin menegaskan akan memperkuat koordinasi lintas kementerian agar program pengembangan industri etanol sejalan dengan agenda swasembada gula nasional.
Langkah ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem industri yang saling mendukung antara sektor energi dan pertanian, sekaligus menumbuhkan ekonomi di daerah penghasil bahan baku.