Minggu, Mei 31, 2026

Sosok Briptu Yuli Setiabudi Polisi Viral, Buat Sayembara Tembak Warga

MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Nama Briptu Yuli Setiabudi kembali menjadi bahan pembicaraan publik setelah aksinya yang menggelar sayembara tembak warga menjadi viral di media sosial. Sosok polisi yang kontroversial ini bukanlah wajah baru di ranah perbincangan masyarakat. Sebelumnya, ia sudah menjadi sorotan karena kritik pedasnya terhadap institusi Polri hingga sempat dikenakan sanksi demosi.

Sayembara Tembak yang Kontroversial

Pada Selasa (7/1/2025), video berdurasi 30 detik yang diunggah oleh akun @papaloren di platform X memperlihatkan Briptu Yuli menawarkan sayembara unik. Dalam video itu, ia mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam tantangan berbahaya yang melibatkan tembakan. “Kebetulan saya masih polisi. Kita buat challenge saja, kamu datang ke Palu, nanti kamu lari, saya tembak. Kena kaki atau tidak, nanti ada hadiahnya,” ujar Yuli sambil tertawa.

Ia mengaku bahwa tantangan tersebut dilakukan semata-mata karena dirinya menyukai hal-hal menantang. Namun, aksi ini menuai kritik keras dari berbagai pihak, mengingat konteksnya dianggap tidak sesuai dengan etika seorang anggota kepolisian.

Polisi dan Konten Kreator

Selain bertugas sebagai anggota kepolisian, Briptu Yuli aktif sebagai konten kreator di media sosial. Dengan akun Instagram bernama @setyabudi38 yang memiliki lebih dari 154 ribu pengikut dan akun TikTok @setyabudi.real dengan 82 ribu pengikut, ia kerap membuat konten edukasi masyarakat, termasuk informasi terkait biaya pembuatan SKCK hingga aktivitasnya sehari-hari.

Yuli juga diketahui sebagai brand ambassador (BA) untuk sebuah produk desain interior, menunjukkan bahwa ia mencoba memanfaatkan popularitasnya untuk mendukung berbagai kegiatan di luar tugas kepolisian.

Jejak Kontroversial Briptu Yuli

Nama Briptu Yuli Setiabudi mulai mencuat ke publik pada Mei 2024 setelah ia mengunggah curhatan mengenai sanksi demosi yang diterimanya. Ia dipindahkan dari Polres Sigi ke Polsek Kulawi, Polda Sulawesi Tengah, setelah membuat konten kontroversial tentang mobil bodong dan dugaan pemotongan anggaran Operasi Lilin Tinombala 2023.

Namun, Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Djoko Wienartono, membantah klaim tersebut. Menurut Djoko, demosi Yuli bukan karena konten yang dibuatnya, melainkan terkait tindak pidana penipuan yang dilakukannya pada tahun 2021. Ia juga disebut terlibat dalam tujuh kasus pelanggaran disiplin, termasuk judi online dan penggelapan mobil.

“Mutasi Briptu YS bukan karena konten, tetapi sebagai bagian dari putusan sidang disiplin yang sudah ditetapkan sebelumnya,” ujar Djoko.

Pengalaman Berat di Balik Jeruji

Sanksi yang diterima Yuli tidak hanya berupa mutasi. Ia juga sempat ditahan selama lima hari bersama narapidana pidana umum. Dalam curhatannya di TikTok, ia mengungkapkan rasa ketidakadilan atas perlakuan tersebut. “Harusnya kalau Patsus (penahanan khusus) itu berbeda tempat dengan tahanan pidana umum. Tapi saya digabung dan baru diberikan surat penahanan setelah tiga hari,” katanya.

Yuli juga menyebut bahwa ia menerima hukuman karena tidak masuk kerja selama 12 hari, meskipun hal itu disebabkan oleh masalah keluarga. Ia merasa hukumannya terlalu berat dibandingkan dengan pelanggaran yang dilakukan oleh rekan sejawatnya.

Tuduhan Pemotongan Anggaran

Dalam salah satu kontennya, Yuli juga menyinggung dugaan pemotongan anggaran Operasi Lilin Tinombala 2023. Ia mengklaim bahwa dari anggaran sebesar Rp 1,4 juta yang seharusnya diterimanya, ia hanya mendapatkan Rp 900 ribu. Tuduhan ini dibantah oleh Kombes Djoko, yang menjelaskan bahwa pengurangan anggaran terjadi karena penambahan jumlah personel dalam operasi tersebut.

“Anggaran yang semula untuk 50 orang dibagi kepada 173 personel yang dilibatkan. Hal ini sudah sesuai dengan kebijakan internal,” jelas Djoko.

Mencari Keadilan

Meski menuai banyak kontroversi, Briptu Yuli tetap teguh menyuarakan ketidakadilan yang dirasakannya. Ia berharap ada evaluasi dalam penegakan disiplin di lingkungan Polri agar lebih transparan dan adil. “Saya hanya ingin keadilan. Jika ada kesalahan, harus ada laporan dan bukti yang jelas, bukan mencari-cari alasan untuk menjatuhkan seseorang,” ucapnya.

Pandangan Publik

Aksi dan pernyataan Briptu Yuli kerap menuai pro dan kontra. Sebagian publik memandangnya sebagai sosok yang berani menyuarakan kebenaran di tengah sistem yang dianggap bermasalah. Namun, tak sedikit pula yang mengkritiknya karena dinilai tidak menjaga etika sebagai seorang aparat penegak hukum.

Keberanian Yuli untuk terus berbicara, meski dalam tekanan, menjadi sorotan. Namun, sebagai seorang polisi, ia juga diharapkan dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan profesional, serta tetap menjaga nama baik institusinya. Perjalanan panjang Briptu Yuli dalam mencari keadilan, baik untuk dirinya maupun untuk masyarakat, akan terus menjadi bahan perbincangan publik. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.