MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Pecinta sepak bola Jawa Tengah, khususnya Semarang dan sekitarnya tentu tidak asing dengan nama Mahesa Jenar. Nama tersebut menjadi julukan bagi klub sepak bola kebanggaan, PSIS Semarang.
Namun, belum banyak yang tahu tentang sosok yang namanya dijadikan julukan tim yang saat ini bermain di BRI Liga 1 ini.
Mahesa Jenar merupakan sosok fiksi, yang menjadi tokoh Utama dalam cerita silat (cersil) Nagasasra dan Sabuk Inten karangan Singgih Hadi (SH Mintardja).
Nagasasra dan Sabuk Inten pertama kali terbit sebagai cerita bersambung di harian Kedaulatan Rakyat (KR), 13 Agustus 1964, sebelum diterbitkan menjadi buku pada 1966.
Berlatar Kesultanan Demak era pemerintahan Sultan Trenggono (1521-1546), Mahesa Jenar atau Rangga Tohjaya merupakan perwira Nara Manggala, pasukan pengawal Sultan Demak, yang memutuskan mundur untuk menjelajahi negeri.
Tujuan Mahesa Jenar mengembara adalah mencari sepasang pusaka, Kiai Nagasasra, dan Kiai Sabuk Inten, yang hilang dari gedung perbendaharaan istana.
Mahesa Jenar diceritakan sebagai sosok pilih tanding, yang mampu menghancurkan batu sebesar kepala kerbau, hanya dengan telapak tangannya yang dilambari ajian Sasra Birawa.
Ajian sakti tersebut diturunkan dari gurunya, Pangeran Handayaningrat atau dikenal sebagai Ki Ageng Pengging Sepuh.
Dalam perjalanannya, Mahesa Jenar terseret dalam konflik keluarga, yang nyaris berakhir perang saudara di Tanah Perdikan Banyubiru.
Saat membantu menyeseaikan konflik itulah, Mahesa Jenar mendapat seorang murid bernama Arya Salaka -mungkin orang tua pesinetron Arya Saloka, terinspirasi tokoh ini, dalam menamai anaknya-, putra kepala Tanah Perdikan Banyubiru.
Tentang Penulis
SH Mintardja (26 Januari 1933 – 18 Januari 1999) merupakan penulis produktif sekaligus pionir pengarang cersil di Indonesia.
Pria asal Yogyakarta tersebut berhasil melahirkan belasan judul cersil sepanjang hayatnya. Karyanya yang tidak kalah terkenal adalah “Api di Bukit Menoreh”, berlatar peralihan Kesultanan Pajang ke Mataram Islam, yang terbit 1970.
Selain cersil, SH Mintardja juga menghasilkan puluhan judul naskah ketoprak dan sandiwara radio. (Tim)