Kamis, April 30, 2026

Usai Sindiran ‘Sok Paling Aceh’ Viral, Endipat Wijaya Minta Maaf ke Ferry Irwandi Lewat Telepon

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Gerindra, Endipat Wijaya, meminta maaf kepada kreator konten sekaligus CEO Malaka Project, Ferry Irwandi, setelah videonya viral karena dianggap menyindir pihak yang “sok paling-paling” dalam penanganan bencana di Aceh dan Sumatra. Ferry mengonfirmasi bahwa Endipat telah menghubunginya secara pribadi pada Selasa (9/12).

“Beliau sudah menghubungi saya secara personal dan minta maaf, saya juga menerima itu karena gak adanya juga memelihara konflik di situasi seperti sekarang,” tulis Ferry melalui akun Instagram @irwandiferry.

Ferry menegaskan dirinya tidak merasa marah ataupun kesal atas pernyataan tersebut. Ia justru bersyukur karena dukungan publik sangat besar.

“Soal perkataan pak dewan, buat temen-temen yang nanya, saya sama sekali tidak merasa amarah dan kesal, berkat dukungan luar biasa kawan-kawan semua… gak ada orang yang bisa merasa kesal dan marah ketika mendapatkan dukungan dan support sebesar ini,” ujarnya.

Dalam komunikasi tersebut, Ferry juga menyampaikan beberapa kebutuhan mendesak masyarakat di lapangan. “Saya juga udah sampaikan beberapa concern dan kebutuhan masyarakat di lapangan dan beliau menerima,” tambahnya.

Pernyataan Endipat sebelumnya memicu reaksi publik usai ia menyebut ada pihak yang datang sekali ke wilayah bencana tetapi seolah paling berjasa. Dalam rapat Komisi I DPR bersama Menkomdigi Meutya Hafid, Senin (8/12), ia membandingkan bantuan pemerintah yang nilainya triliunan rupiah dengan donasi publik yang mencapai Rp10 miliar.

“Orang yang cuma datang sekali seolah-olah paling bekerja di Aceh… Padahal pemerintah udah bikin ratusan posko di sana,” kata Endipat.

“Orang per orang cuma nyumbang Rp10 miliar, negara udah triliunan ke Aceh,” tambahnya.

Endipat menjelaskan bahwa kritikan tersebut bukan ditujukan kepada relawan, tetapi kepada Komdigi yang dinilai kurang kuat dalam publikasi kerja pemerintah. Ia menyebut viralnya aksi relawan membuat publik salah paham, karena kerja besar pemerintah jarang terlihat.

“Yang saya soroti adalah lemahnya komunikasi publik… masyarakat hanya melihat apa yang viral, bukan apa yang sebenarnya dilakukan di lapangan,” katanya.

Ia menegaskan relawan dan negara sama-sama penting:
“Relawan bekerja dengan hati, negara bekerja dengan kewajiban. Dua-duanya penting, dan tidak boleh dipertentangkan.”

Dalam rapat tersebut, Endipat meminta Komdigi menggencarkan penyebaran informasi agar kinerja pemerintah tidak kalah viral.

“Fokus nanti, ke depan Kementerian Komdigi ini mengerti dan tahu persis isu sensitif nasional… sehingga enggak kalah viral dibandingkan dengan teman-teman yang sekarang ini, paling-paling di Aceh, di Sumatra,” ujarnya.

Setelah permintaan maaf diterima Ferry dan klarifikasi disampaikan Endipat, keduanya sepakat untuk fokus pada penanganan bencana dan kebutuhan masyarakat, bukan memperpanjang polemik.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.