MELIHAT INDONESIA, JAKARTA- Baru baru ini, surat protes mengenai kebijakan hijab di RS Medistra viral di media sosial X.
Surat tersebut, yang dikirim oleh Dr. dr. Diani Kartini, SpB, Subsp.Onk(K), mengangkat isu tentang perbedaan perlakuan terhadap penggunaan hijab untuk perawat dan dokter di rumah sakit tersebut.
Dalam suratnya, Diani Kartini meminta penjelasan mengenai kebijakan yang tampaknya membedakan antara dokter umum dan dokter spesialis dalam hal penggunaan hijab.
Pengunduran Diri dan Reaksi
Diani Kartini mengonfirmasi bahwa dia sudah mengundurkan diri dari RS Medistra.
“Saya memutuskan untuk keluar dari RS Medistra pada Sabtu, 31 Agustus 2024, setelah peristiwa tersebut,” ujarnya saat diwawancarai media.
Ia menegaskan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan yang membatasi penggunaan hijab untuk dokter umum sementara dokter spesialis dan subspesialis diperbolehkan mengenakannya. “Ini adalah bentuk diskriminasi yang tidak saya terima,” kata Diani Kartini.
Kebijakan dan Proses Rekrutmen
Menurut Diani Kartini, meskipun pihak manajemen RS Medistra awalnya memberikan jawaban yang mengesankan bahwa kebijakan tersebut tidak bermasalah, saat wawancara penerimaan dokter umum, pertanyaan mengenai hijab masih muncul.
“Pertanyaan tersebut menunjukkan wawancara yang tidak berkualitas,” tambahnya.
Klarifikasi RS Medistra
Direktur RS Medistra, Dr. Agung Budisatria, MM, FISQua, telah memberikan klarifikasi. Ia mengklaim bahwa RS Medistra terbuka untuk semua pelamar tanpa diskriminasi, termasuk yang mengenakan hijab. “Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat isu diskriminasi dalam proses rekrutmen,” ungkapnya dalam keterangan resmi yang diterima media pada Senin (2/9/2024).
Dr. Agung menambahkan bahwa pihaknya akan menyelidiki proses rekrutmen terkait isu yang diungkapkan oleh Dr. Diani Kartini. “Kami berkomitmen untuk memastikan bahwa proses rekrutmen dan komunikasi berjalan dengan baik dan inklusif,” jelasnya.
Isi Surat Lengkap Diani Kartini
Dalam suratnya, Dr. Diani Kartini menyampaikan keberatannya terhadap pertanyaan yang muncul dalam wawancara, yang menanyakan apakah calon dokter umum bersedia membuka hijab. Ia menilai pertanyaan tersebut sebagai bentuk rasisme dan meminta agar RS Medistra lebih jelas dalam menetapkan kebijakan terkait penggunaan hijab.
“Jika RS Medistra memang memiliki kebijakan khusus, sebaiknya dituliskan secara jelas agar tidak membingungkan calon karyawan dan pasien,” tulisnya dalam surat tersebut.
Isu ini mengundang perhatian publik dan mengarah pada pertanyaan penting tentang kebijakan diskriminasi dalam proses rekrutmen di RS Medistra.
Sementara RS Medistra berjanji untuk menindaklanjuti masalah ini, masyarakat menunggu langkah-langkah konkret yang akan diambil untuk memastikan keadilan dan inklusivitas dalam lingkungan kerja. (**)