Kamis, Maret 12, 2026

Zulhas Klaim Harga Beras Global Turun Imbas Indonesia Hentikan Impor

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengklaim kebijakan Indonesia menghentikan impor beras berdampak langsung pada penurunan harga beras dunia. Zulhas menyebut Indonesia sebelumnya merupakan pembeli beras terbesar di dunia sehingga saat impor dihentikan, efeknya terasa signifikan di pasar global.

“Ternyata kita ini pembeli beras terbesar di dunia. Dulu waktu saya Menteri Perdagangan, itu harga beras USD 650 per tonnya. Sekarang karena kita tidak belanja, beras itu di bawah USD 400 (per ton). Jadi pengaruh harga dunia luar biasa,” ujar Zulhas dalam acara Hakordia 2025 di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (16/12/2025).

Zulhas mengatakan, dalam satu tahun terakhir Indonesia berhasil menghentikan impor beras dan mencatat surplus produksi. Pada 2024, Indonesia mengimpor sekitar 4,5 juta ton beras, sementara pada 2025 justru mengalami surplus sekitar 4,7 juta ton. Saat ini, stok beras di gudang Perum Bulog mencapai sekitar 3,7 juta ton.

“Satu tahun ini kita sudah bisa swasembada, nanti Mentan akan umumkan akhir Desember bahwa kita sudah swasembada,” ujar Zulhas.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia tidak lagi mengimpor beras medium pada 2025. Impor yang masih dilakukan hanya untuk beras premium atau khusus serta beras untuk kebutuhan industri. Impor beras medium yang tercatat pada Januari 2025 sebesar 69,75 ribu ton merupakan sisa kuota 2024.

BPS mencatat, impor beras sepanjang Januari–Oktober 2025 didominasi beras pecah bukan untuk makanan ternak (HS 10064090) sebesar 286,91 ribu ton, turun 26,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Beras jenis ini umumnya digunakan industri untuk pembuatan bihun, tepung beras, dan bubur. Selain itu, impor juga mencakup beras basmati sebesar 3,15 ribu ton dan beras hom mali 600 ton yang dibutuhkan sektor hotel, restoran, dan katering karena tidak diproduksi di dalam negeri.

BPS juga merilis potensi produksi beras nasional periode Januari–Desember 2025 yang diperkirakan mencapai 34,79 juta ton, meningkat sekitar 4,17 juta ton atau 13,60 persen dibandingkan 2024. Angka tersebut menunjukkan kebutuhan beras konsumsi masyarakat dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri, sementara impor dilakukan secara selektif untuk kebutuhan industri dan segmen beras khusus.

Selain beras, Zulhas menyebut produksi jagung nasional juga menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, produksi jagung mencapai sekitar 16,55 juta ton atau naik sekitar 9,34 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut Zulhas, peningkatan produksi pangan ini turut didorong oleh penyederhanaan regulasi, termasuk pemangkasan aturan pengadaan pupuk bersubsidi dari sekitar 148 regulasi menjadi 33 aturan, sehingga pupuk dapat diterima petani sebelum masa tanam dan berdampak besar pada produktivitas pertanian.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.