Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Gubernur Bali I Wayan Koster menolak tegas kahadiran timnas Israel ke wilayahnya untuk bertanding di ajang Piala Dunia U-20. Puluhan tahun lalu, Presiden Sukarno sudah melakukan hal yang sama.
Perjuangan Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel telah dilakukukan sejak era Presiden Sukarno. Bagi Bung Besar, tiap bangsa punya hak menentukan nasibnya sendiri tanpa melalui pengaturan dan campur tangan negara lain.
Sejak awal, Indonesia tak mau mengakui Israel yang diproklamasikan David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948, karena dianggap merampas tanah Palestina. Pemerintah Indonesia juga tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Ucapan selamat dan pengakuan kemerdekaan Indonesia yang dikirimkan Presiden Israel Chaim Weizmann dan Perdana Menteri Ben Gurion tidak pernah ditanggapi serius oleh pemerintah Indonesia. Mohammad Hatta hanya mengucapkan terimakasih, namun tak menawarkan timbal balik dalam hal pengakuan diplomatik. Sukarno juga tak menanggapi telegram ucapan selamat dari Israel.
Pada saat Sukarno menggagas Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1953, Indonesia dan Pakistan menolak keras disertakannya Israel dalam konferensi tersebut. Keikutsertaan Israel bakal menyinggung perasaan bangsa Arab, yang kala itu masih memerdekakan diri. Sementara Israel adalah bagian dari imperialis yang ingin dienyahkan Sukarno dan pemimpin- pemimpin dunia ketiga lainnya.
Dalam pidato pembukaannya di KAA pada 1955, Sukarno menyatakan bahwa kolonialisme belum mati, hanya berubah bentuknya. Neokolonialisme itu ada di berbagai penjuru bumi, seperti Vietnam, Palestina, Aljazair, dan seterusnya.
Maka dari itu, Bung Karno mengajak supaya bangsa- bangsa Asia dan Afrika di dalam konferensi ini membentuk satu front anti-kolonialisme dengan membangun dan memupuk solidaritas Asia-Afrika.
“Imperialisme yang pada hakikatnya internasional hanya dapat dikalahkan dan ditundukkan dengan penggabungan tenaga antiimperialisme yang internasional juga,” ujar Sukarno dalam pidato hari ulangtahun RI Ke-21, 17 Agustus 1966.
Pasca KAA, solidaritas Asia-Afrika menguat. Sukarno makin keras mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina. Hal itu dilakukan dengan berbagai cara, tak terkecuali olahraga. Maulwi Saelan, pengawal Sukarno, masih ingat betul pengalamannya tatkala sepakbola menjadi salah satu alat perjuangan Indonesia di pentas politik internasional. Menurutnya, pada 1958 Indonesia tinggal selangkah lagi masuk ke ajang Piala Dunia.
Di penyisihan wilayah Asia Timur, Indonesia berhasil menundukkan Tiongkok. Indonesia tinggal memainkan pertandingan penentuan melawan Israel sebagai juara di wilayah Asia Barat. Namun, Sukarno melarangnya.
“Itu sama saja mengakui Israel,” ujar Maulwi menirukan omongan Sukarno.
“Ya, kita nurut. Nggak jadi berangkat,” lanjut mantan penjaga gawang timnas yang pernah membawa Indonesia menahan imbang Uni Soviet di Olimpiade Melbourne 1956.
Perlawanan terhadap Israel kembali dilakukan oleh Sukarno ketika Jakarta jadi tuan rumah Asian Games IV pada 1962. Pemerintah Indonesia tidak memberikan visa kepada kontingen Israel dan Taiwan. Meski alasan resmi yang dikeluarkan adalah, Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan kedua negara tersebut, tapi alasan politik antiimperialisme Sukarno mendasari kebijakan tersebut. Saat itu, negara- negara Arab sedang bersengketa dengan Israel yang ditopang Barat. Sedangkan China dikucilkan dunia internasional setelah Barat hanya mengakui Taiwan sebagai pemerintahan China yang sah. Sukarno melihat hal ini sebagai bentuk penindasan negara- negara Old Established Forces (Oldefos) terhadap New Emerging Forces (Nefos).
Akibatnya, Komite Olimpiade Internasional (IOC) menskors keanggotaan Indonesia dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Alih- alih patuh, Sukarno justru memerintahkan Komite Olimpiade Indonesia keluar dari IOC pada Februari 1963. Sukarno terus melawan. Sebagai jawabannya, Sukarno membentuk Ganefo yang diadakan tahun 1963, yang menjadi pertanda ketidaktergantungan pada kekuatan- kekuatan dunia yang ada.
Hingga saat kekuasaannya sudah direbut Jenderal Suharto pada 1966, Sukarno tetap pada pendiriannya dalam hal perjuangan rakyat Palestina melawan Israel.
307