Sabtu, April 18, 2026

Perspektif Teori Psikologi Tentang Perilaku Bunuh Diri

MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Berita tentang perilaku bunuh diri kini semakin sering muncul di berbagai media, baik cetak maupun digital. Baru-baru ini, sebuah kasus tragis terjadi di Semarang diduga akibat bunuh diri.

Kasus ini mengungkapkan betapa seriusnya isu bunuh diri yang mempengaruhi banyak orang. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2015 terdapat 812 kasus bunuh diri di seluruh Indonesia.

Sementara itu, World Health Organization (WHO) memperkirakan angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia mencapai 10.000 pada tahun 2012. Di Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat sekitar 10.000 kasus bunuh diri setiap tahunnya.

Mori Vurqaniati, Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI, dikutip yang terbit di buletin.k-pin.org
dalam tulisannya, menguraikan berbagai motif di balik perilaku bunuh diri.

Menurut Mintz (dalam Davison, 2006), beberapa motif utama termasuk agresi yang dialihkan ke diri sendiri, pembalasan yang menimbulkan rasa bersalah pada orang lain, serta keinginan untuk melarikan diri dari stres dan rasa sakit.

“Motif-motif ini seringkali muncul dari perasaan tidak diterima atau kemarahan yang terpendam,” tulis Vurqaniati.

Perilaku bunuh diri juga bervariasi antara budaya. Di Amerika Serikat, bunuh diri terjadi hampir setiap 15 menit. Di negara-negara dengan tekanan hidup tinggi seperti Jepang, Jerman, dan Taiwan, angka bunuh diri lebih tinggi dibandingkan negara-negara yang kurang berorientasi prestasi seperti India.

Jepang, khususnya, melaporkan sekitar 30.000 kasus bunuh diri per tahun pada 2000-an, di mana bunuh diri dianggap sebagai tindakan “terhormat” dalam rangka mempertahankan kehormatan di tengah tekanan sosial.

Teori-teori psikologi menawarkan berbagai perspektif mengenai bunuh diri. Freud, dalam teori psikoanalisisnya, menganggap bunuh diri sebagai bentuk pembunuhan terhadap diri sendiri. Jika seseorang kehilangan orang yang dicintai sekaligus dibenci, agresi yang dialihkan ke diri sendiri bisa berakhir pada bunuh diri.

Sementara itu, teori sosiologis dari Emile Durkheim membagi bunuh diri menjadi beberapa jenis, termasuk bunuh diri egostik, yang terjadi pada individu yang terasing dari masyarakat, dan bunuh diri alturistik, sebagai respons terhadap tuntutan sosial.

Durkheim juga mengidentifikasi bunuh diri anomik, yang disebabkan oleh perubahan mendalam dalam kehidupan sosial yang menyebabkan disorientasi.

Pendekatan Shneidman melihat bunuh diri sebagai upaya untuk mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi. Shneidman menyatakan bahwa orang yang merencanakan bunuh diri sering kali mengungkapkan niat mereka, baik secara langsung maupun melalui penarikan diri dari lingkungan sosial.

Dalam ranah neurokimia, terdapat hubungan antara kadar serotonin dan perilaku bunuh diri. Penurunan kadar serotonin dalam otak dapat meningkatkan impulsivitas dan risiko bunuh diri. Gangguan pada sistem serotonin dapat memainkan peran penting dalam perilaku bunuh diri.

Untuk mencegah perilaku bunuh diri, beberapa langkah penting bisa diambil. Pertama, mengelola ekspektasi yang tidak realistis dan mengatasi kesenjangan antara harapan dan kenyataan adalah kunci.

“Penerimaan terhadap kenyataan hidup sangat penting untuk mengurangi risiko bunuh diri,” jelas Vurqaniati.

Selain itu, menangani gangguan mental yang mendasari, seperti depresi atau skizofrenia, dapat membantu mencegah bunuh diri.

“Pengobatan gangguan mental dapat mengurangi kemungkinan terjadinya bunuh diri,” tambahnya.

Membuka pandangan pelaku bunuh diri untuk melihat alternatif lain dan mendampingi mereka dalam mencari solusi juga merupakan langkah penting. “Temani mereka, ajak berbicara, dan bantu mereka untuk melihat bantuan yang tersedia,” saran Vurqaniati.

Terakhir, penting untuk tidak meninggalkan orang-orang yang berniat bunuh diri sendirian dengan akses ke benda-benda berbahaya. “Pastikan mereka tidak memiliki akses ke senjata tajam, obat-obatan, atau tali, dan tetaplah menemani mereka,” tutup Vurqaniati.

Dengan pendekatan yang komprehensif dan pencegahan yang efektif, diharapkan angka bunuh diri dapat dikurangi dan dukungan yang tepat dapat diberikan kepada mereka yang membutuhkannya. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.