Rabu, Juni 24, 2026

Pesona Masjid Wapauwe, Jejak Islam di Maluku Sejak Abad ke-15

MELIHAT INDONESIA, MALUKU – Di tengah rimbunan pohon-pohon tinggi di Desa Kaitetu, Maluku, berdiri kokoh sebuah masjid kecil namun sarat sejarah, Masjid Wapauwe. Meski terlihat sederhana, masjid ini menyimpan cerita panjang tentang perjuangan penyebaran Islam, legenda mistis, dan warisan budaya yang masih bertahan hingga saat ini.

Awal Berdiri dan Perjalanan Panjang

Dikutip dari berbagai sumber, Masjid Wapauwe awalnya didirikan pada tahun 1400 Masehi dengan nama Masjid Wawane. Pendiriannya dipelopori oleh Perdana Jamilu, seorang tokoh dari Kesultanan Jailolo, yang melihat pentingnya membangun pusat penyebaran Islam di Tanah Hitu, Maluku. Awalnya masjid ini terletak di lereng Gunung Wawane, menjadikannya titik sentral bagi lima negeri di sekitar pegunungan tersebut.

Namun, kedatangan kolonial Belanda dan Portugis mengubah segalanya. Pada tahun 1614, masjid dipindahkan ke Kampung Tehala untuk menghindari gangguan dari kolonial, dan pada 1646, Masjid Wawane akhirnya dipindahkan lagi ke tempatnya sekarang di Kaitetu. Uniknya, warga sekitar percaya bahwa pemindahan ini bukan sekadar keputusan manusia, tetapi masjid tersebut berpindah secara mistis ke lokasi barunya di Teon Samaiha.

Mushaf Kuno dan Warisan Islam di Maluku

Salah satu daya tarik utama Masjid Wapauwe adalah dua mushaf Al-Qur’an kuno yang ditulis tangan, menjadi warisan luar biasa dari masa lalu. Mushaf pertama ditulis pada tahun 1550 oleh Imam Muhammad Arikulapessy, menjadikannya salah satu mushaf tertua di Indonesia. Sementara itu, mushaf kedua ditulis oleh cucu Imam Muhammad, Nur Cahya, pada tahun 1590. Kedua naskah ini telah dipamerkan dalam beberapa kesempatan dan masih disimpan dengan baik.

Tidak hanya Al-Qur’an, manuskrip khutbah Jumat dari tahun 1661 dan kitab Barzanzi juga tersimpan di rumah pusaka Marga Hatuwe. Keberadaan manuskrip-manuskrip ini mencerminkan kekayaan intelektual yang berkembang di Maluku sejak berabad-abad lalu.

Keunikan Arsitektur dan Tradisi

Arsitektur Masjid Wapauwe juga mencerminkan kesederhanaan yang sarat makna. Bangunan berukuran kecil, hanya 10 x 10 meter, terbuat dari bahan-bahan alami seperti gaba-gaba (pelepah sagu kering) dan daun rumbia sebagai atap. Yang paling mengesankan adalah konstruksi tanpa menggunakan paku, tetapi hanya dengan teknik sambungan kayu tradisional yang masih lestari hingga sekarang.

Meski sudah mengalami beberapa kali renovasi, bentuk asli masjid tetap terjaga. Renovasi besar pernah dilakukan pada tahun 1464, namun inti bangunan tetap dipertahankan sesuai aslinya. Hingga kini, masjid ini masih menjadi tempat sholat lima waktu dan sholat Jumat bagi masyarakat Desa Kaitetu.

Perjalanan Menuju Masjid Wapauwe

Perjalanan ke Masjid Wapauwe dari Kota Ambon adalah sebuah pengalaman tersendiri. Ditempuh dalam waktu sekitar satu jam melalui jalur darat, pengunjung akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Sepanjang jalan, tanaman cengkeh dan pala menambah keindahan alam sekitar. Setelah melewati jalan yang berkelok-kelok, panorama pesisir pantai utara Pulau Ambon dengan laut biru yang tenang menyambut kedatangan para pengunjung.

Di desa Kaitetu, selain Masjid Wapauwe, ada juga situs-situs sejarah lainnya seperti benteng New Amsterdam dan gereja tua yang menjadi saksi bisu konflik agama di masa kolonial.

Simbol Ketahanan Iman

Masjid Wapauwe bukan sekadar bangunan tua, tetapi simbol kekuatan iman dan persatuan masyarakat Muslim di Maluku. Selama lebih dari lima abad, masjid ini telah menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa, mulai dari penyebaran Islam, kolonialisme, hingga perjuangan melawan penjajah. Warisan sejarah dan budaya yang tersimpan di masjid ini, termasuk manuskrip kuno dan bangunan tradisionalnya, adalah harta yang tak ternilai bagi bangsa Indonesia.

Bagi siapa pun yang mengunjungi, Masjid Wapauwe adalah pintu gerbang untuk memahami lebih dalam sejarah Islam di Maluku dan kekuatan spiritual yang tetap bertahan di tengah pergolakan zaman. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.