Usulan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin agar pasien Tuberkulosis (TBC) menjadi penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memunculkan beragam tanggapan.
Di satu sisi, gagasan tersebut dinilai dapat membantu memperbaiki status gizi penderita TBC, namun di sisi lain juga memicu pertanyaan mengenai relevansi kebijakan tersebut dengan karakter penyakit yang bersifat menular, termasuk melalui percikan udara saat batuk atau bersin, serta potensi penularan melalui kontak erat dan penggunaan peralatan makan yang tidak higienis dalam kondisi tertentu.
Menkes mengusulkan agar pasien TBC masuk dalam kelompok penerima MBG di luar sasaran yang selama ini telah ditetapkan, seperti anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Ia menyebut Indonesia masih menghadapi sekitar satu juta kasus TBC per tahun dengan angka kematian mencapai 160 ribu jiwa.
Budi menilai perbaikan gizi dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh pasien sehingga peluang kesembuhan menjadi lebih besar. Usulan tersebut juga telah disampaikan kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dan disebut mendapat respons positif, meski berpotensi memerlukan penyesuaian regulasi program.
Namun, usulan ini turut memunculkan catatan kritis dari sebagian pihak yang mempertanyakan efektivitasnya. TBC diketahui sebagai penyakit menular melalui udara, terutama lewat droplet saat penderita batuk, berbicara, atau bersin, sehingga penanganannya tidak hanya bergantung pada pemenuhan gizi, tetapi juga pengendalian penularan di masyarakat.
Sejumlah pandangan juga menilai bahwa fokus utama penanganan TBC seharusnya tetap berada pada pengobatan medis, kepatuhan konsumsi obat, serta pelacakan kontak erat pasien. Pendekatan ini dianggap lebih langsung menyasar akar masalah dibanding perluasan bantuan makanan bergizi.
Dalam sejumlah pedoman kesehatan global, termasuk WHO, disebutkan bahwa penanganan TBC tidak bisa hanya bertumpu pada satu aspek.
Intervensi nutrisi memang penting untuk mendukung pemulihan pasien, tetapi harus berjalan beriringan dengan pengobatan standar, deteksi dini, serta perbaikan faktor sosial seperti lingkungan dan akses layanan kesehatan. Dengan kata lain, gizi dipandang sebagai bagian dari paket perawatan menyeluruh, bukan satu-satunya solusi utama.
Di sisi lain, Menkes tetap menegaskan bahwa pemenuhan gizi merupakan bagian penting dalam mendukung proses penyembuhan pasien TBC. Pemerintah bersama BGN dan kementerian terkait masih mengkaji kemungkinan perluasan sasaran Program MBG sebagai bagian dari kebijakan berbasis data kesehatan dan kebutuhan lapangan.