Jumat, April 17, 2026

Melihat Tradisi Kerik Gigi Mentawai, Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Sebagai Standar Kecantikan

MELIHAT INDONESIA, MENTAWAI – Indonesia memang kaya akan budaya. Setiap daerah memiliki kebudayaan yang unik dan diwariskan secara turun-temurun, termasuk salah satu suku tertua di Indonesia, suku Mentawai. Berada di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, suku ini melestarikan tradisi yang tak kalah menarik perhatian, yaitu kerik gigi. Tradisi ini cukup istimewa karena hanya dilakukan oleh perempuan. Penasaran dengan kisah dan makna di baliknya? Yuk, simak ulasannya!

Menjadi Simbol Kecantikan

Tradisi kerik gigi di kalangan perempuan Mentawai bukan hanya sekadar ritual adat yang harus dilestarikan, melainkan juga simbol kecantikan. Biasanya, perempuan yang sudah dewasa akan melakukan kerik gigi, dan gigi yang runcing menandakan kecantikan, kedewasaan, serta kesiapan untuk menikah dan memiliki anak. Gigi runcing dianggap mempercantik senyum seorang perempuan, menjadikannya lebih menarik di mata para pria.

Nggak hanya itu, tradisi ini juga dilakukan sebagai bentuk kepatuhan seorang istri kepada suaminya. Para perempuan berharap bisa tampil menawan agar suaminya tidak berpaling. Bahkan, dilansir dari National Geographic, seorang perempuan Mentawai pernah berkata, “Sekarang gigi saya tajam, dan saya terlihat lebih cantik. Ini untuk suami saya, jadi dia tidak akan meninggalkan saya.”

Prosesnya Tanpa Pembiusan

Mengerikan? Mungkin. Tradisi ini memang menguji keberanian, karena peruncingan gigi dilakukan tanpa pembiusan. Jika biasanya kamu harus menerima suntikan bius sebelum tindakan medis di dokter gigi, proses kerik gigi di Mentawai dilakukan secara sadar penuh. Alat yang digunakan adalah besi atau kayu yang sudah diasah tajam, dan biasanya peruncingan ini dilakukan oleh ketua adat, orang tua, atau kerabat perempuan yang menjalani ritual.

Gigi-gigi itu diruncingkan hingga berbentuk segitiga, dan seluruh proses berlangsung dengan rasa sakit yang luar biasa. Tak jarang, darah pun bercucuran, dan perempuan yang menjalani tradisi ini menunjukkan kekuatan dan ketabahan yang luar biasa.

Pengendalian Diri dari Enam Sifat Buruk

Lebih dari sekadar keindahan, kerik gigi juga bermakna spiritual. Ritual ini dipercaya sebagai upaya untuk mengendalikan diri dari enam sifat buruk manusia, yang dalam tradisi disebut Sad Ripu. Enam sifat tersebut meliputi hawa nafsu (Kama), tamak (Lobha), amarah (Krodha), mabuk (Mada), iri hati (Matsarya), dan kebingungan (Moha). Proses yang menyakitkan ini diyakini mampu mengingatkan perempuan akan pentingnya menahan diri dari hal-hal buruk dalam hidup.

Makna kerik gigi yang mendalam ini menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya tentang keindahan fisik, tetapi juga spiritualitas dan ketabahan. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.