Selasa, April 21, 2026

Captain America: Brave New World’, Era Baru yang Gagal Mengejutkan

MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Marvel Studios kembali membawa Captain America ke layar lebar dengan film terbaru, Brave New World. Kali ini, tameng ikonik itu tak lagi dipegang oleh Steve Rogers (Chris Evans), melainkan oleh Sam Wilson (Anthony Mackie). Dengan transisi besar ini, ekspektasi penonton pun menggunung, menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar aksi heroik biasa.

Namun, alih-alih menghadirkan kisah yang mengguncang, Brave New World justru terasa seperti potongan puzzle yang tak sepenuhnya menyatu. Film ini memang tetap menghibur dengan adegan aksi khas Marvel, tetapi bagi sebuah film berjudul Captain America, sekadar seru tak cukup untuk memenuhi standar.

Panggung untuk Sam Wilson, Tapi…

Sejak Steve Rogers memutuskan pensiun di Avengers: Endgame (2019), peran Captain America jatuh ke tangan Sam Wilson. Perjalanan karakternya sempat dijelajahi dalam serial The Falcon and the Winter Soldier (2021), yang membuka jalan baginya untuk benar-benar menjadi penerus Steve.

Namun dalam Brave New World, upaya Marvel untuk menjadikan Sam sebagai ikon baru terasa setengah hati. Alih-alih mengeksplorasi perjalanan moral dan patriotisme yang mendalam seperti trilogi Captain America sebelumnya, film ini lebih sibuk menampilkan drama politik yang kurang menggigit.

Politik Tanpa Ketegangan

Tim penulis—Rob Edwards, Malcolm Spellman, dan Dalan Musson—kembali membawa isu politik ke dalam narasi Captain America, tetapi kali ini tanpa ketegangan yang memikat. Film ini memang menyoroti sisi gelap pemerintahan AS melalui karakter Presiden Thaddeus Ross (Harrison Ford), namun alurnya lebih banyak disampaikan melalui dialog panjang daripada lewat aksi yang menegangkan.

Bahkan, jika dibandingkan dengan film-film Captain America sebelumnya, Brave New World lebih terasa seperti sekuel The Incredible Hulk (2008) daripada kelanjutan The Winter Soldier (2014) dan Civil War (2016). Fokus yang terlalu besar pada masa lalu Ross dan hubungannya dengan putrinya, Betty (Liv Tyler), justru mengalihkan perhatian dari sosok Captain America itu sendiri.

Kurangnya Ikon Baru

Salah satu daya tarik utama film-film Captain America sebelumnya adalah momen-momen ikonik yang membekas di benak penonton. Brave New World sayangnya gagal menghadirkan momen sekuat itu.

Film ini memang memiliki beberapa adegan aksi yang seru, tetapi semuanya terasa standar dan kurang meninggalkan dampak emosional yang kuat. Bahkan, scoring dari Laura Karpman yang menggantikan Henry Jackman terasa kurang mencolok, membuat film ini kehilangan elemen heroik yang biasanya begitu melekat dalam kisah Captain America.

Harrison Ford Mencuri Perhatian

Di antara berbagai elemen yang terasa kurang, satu aspek yang tetap bersinar adalah akting Harrison Ford. Sebagai Presiden Thaddeus Ross yang akhirnya bertransformasi menjadi Red Hulk, ia berhasil membawa intensitas yang diperlukan.

Adegan pertarungannya dengan Captain America menjadi salah satu puncak dari film ini. Namun, meskipun pertarungan itu digarap dengan apik, tak bisa dipungkiri bahwa daya tarik utama tetap jatuh ke karakter Ross, bukan Sam Wilson.

Harapan yang Beralih ke Film Lain

Secara keseluruhan, Brave New World adalah film yang berjalan aman tanpa mengambil banyak risiko. Ini bukan film buruk, tetapi juga bukan film yang akan dikenang sebagai terobosan dalam Marvel Cinematic Universe.

Kekecewaan yang muncul dari film ini akhirnya hanya membuat penggemar semakin menantikan dua film MCU berikutnya, Thunderbolts dan The Fantastic Four: First Steps. Jika Marvel Studios ingin kembali ke puncak kejayaannya, mereka harus mulai berani menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru dan bukan sekadar mengulang formula lama yang mulai kehilangan magisnya. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.