MELIHAT INDONESIA, SOLO – Ramadan 1446 H kian dekat, umat Islam di seluruh dunia bersiap menyambut bulan penuh berkah ini dengan menjalankan ibadah puasa. Kewajiban berpuasa selama sebulan penuh menjadi salah satu pilar utama dalam ajaran Islam, sebagaimana tertuang dalam rukun Islam ketiga.
Namun, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga dari Subuh hingga Maghrib. Lebih dari itu, puasa sejatinya adalah bentuk pelatihan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Dalam ceramahnya yang dikutip dari kanal YouTube Adi Hidayat Official, Minggu (23/2/2025), Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan bahwa puasa yang benar akan membentuk karakter seseorang agar lebih terjaga dari keburukan.
“Orang yang puasanya benar itu, maka puasa yang dia lakukan akan melatih dia menjadi lebih baik sehingga punya benteng dari keburukan,” ujar UAH.
Puasa Sebagai Latihan Diri
Menurutnya, Ramadan adalah momen bagi setiap Muslim untuk melatih diri agar terbiasa menjauhi perbuatan tercela. Jika seseorang sungguh-sungguh menjalani puasanya, maka kebiasaan buruk yang selama ini dilakukan akan berkurang, bahkan bisa ditinggalkan sepenuhnya.
Sebagai contoh, seseorang yang benar-benar memahami esensi puasa tidak akan berkata kasar, menyebarkan fitnah, atau melakukan perbuatan tidak pantas.
“Latihan puasa itu mengarahkan pelakunya untuk terbebas dari keburukan karena dia berusaha menjadi orang yang lebih baik,” tegasnya.
UAH juga menekankan bahwa ada perbedaan yang jelas antara orang yang puasanya benar dan mereka yang hanya sekadar menahan lapar dan haus. Hal ini dapat dilihat saat datangnya Idulfitri, di mana setiap Muslim mengumandangkan takbir sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:
وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
UAH menjelaskan bahwa orang yang menjalani puasa dengan penuh kesungguhan akan merasakan makna takbir yang sesungguhnya di hari kemenangan. Takbir mereka adalah bentuk syukur atas perubahan diri yang lebih baik, bukan sekadar formalitas menyambut Idulfitri.
“Jadi nanti kelihatan takbir orang yang berubah setelah Ramadan dengan takbir orang yang cuma ikut-ikutan menahan lapar dan haus,” tegasnya.
Bulan Ramadan bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga momentum untuk meningkatkan kualitas diri dan meraih ketakwaan yang hakiki. (**)