MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Kurma dikenal sebagai buah kaya manfaat yang sering dikonsumsi saat berbuka puasa. Kandungan nutrisinya yang tinggi menjadikannya pilihan utama untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa kesalahan dalam menyimpan dan mengonsumsi kurma bisa berakibat buruk bagi kesehatan.
Tidak semua kurma yang dijual di pasaran aman dikonsumsi langsung. Jika disimpan di tempat lembap atau tidak higienis, kurma dapat menjadi tempat berkembangnya jamur dan bakteri berbahaya. Kontaminasi ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan hingga infeksi serius jika dikonsumsi tanpa pembersihan yang tepat.
Selain itu, banyak kurma yang melalui proses pengawetan dengan bahan kimia seperti sulfur dioksida agar lebih awet dan terlihat segar. Paparan zat ini berisiko memicu reaksi alergi dan gangguan kesehatan bagi sebagian orang.
Banyak orang langsung memakan kurma tanpa membilasnya terlebih dahulu. Padahal, permukaannya bisa mengandung debu, kotoran, atau bahkan sisa pestisida dari proses pertanian.
Kurma yang disimpan di tempat yang terlalu lembap berisiko ditumbuhi jamur. Racun dari jamur ini dapat merusak hati dan sistem saraf jika dikonsumsi dalam jumlah besar.
Beberapa produsen menambahkan pemanis buatan atau zat pengawet yang dapat berdampak buruk pada tubuh, terutama bagi penderita alergi atau masalah pencernaan.
Agar tetap mendapatkan manfaat terbaik dari kurma tanpa risiko kesehatan, berikut beberapa langkah yang harus diperhatikan:
Cuci kurma dengan air bersih atau rendam sebentar dalam air hangat sebelum dikonsumsi.
Simpan kurma di tempat kering dan sejuk untuk mencegah pertumbuhan jamur.
Hindari mengonsumsi kurma yang berjamur atau berbau tidak sedap.
Periksa label kemasan dan hindari kurma dengan tambahan bahan kimia berbahaya.
Kurma memang buah yang kaya manfaat, tetapi kesalahan dalam cara penyimpanan dan konsumsinya bisa menjadi ancaman bagi kesehatan. Pastikan Anda mengonsumsi kurma dengan cara yang benar agar tetap mendapatkan khasiat terbaiknya tanpa risiko yang tidak diinginkan. (**)