MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Euforia Lebaran kerap disambut dengan suka cita, namun di balik meja makan yang penuh lauk bersantan dan deretan toples kue kering, bahaya kesehatan tengah menunggu. Kebiasaan makan berlebihan dan perubahan gaya hidup mendadak pasca-Ramadhan menjadi penyebab utama berbagai gangguan kesehatan yang menghantui banyak orang.
Selama sebulan berpuasa, tubuh terbiasa dengan ritme makan yang teratur dan pola hidup lebih tenang. Namun ketika Idul Fitri tiba, semua berubah drastis. Nafsu makan yang sempat terkendali kini lepas kendali, dengan dalih “merayakan kemenangan.”
Salah satu risiko yang paling umum adalah lonjakan gula darah. Kue-kue manis yang menjadi ikon Lebaran—nastar, kastengel, putri salju—mengandung gula tinggi yang dapat memicu hiperglikemia, terutama pada penderita diabetes.
“Godaan makanan manis harus disikapi bijak. Jangan sampai puasa sebulan rusak hanya karena tak mampu mengontrol diri saat Lebaran,” tegas Ida Gunawan, Wakil Ketua PDGKI-Jaya.
Tak hanya gula, kadar kolesterol pun ikut melonjak. Hidangan khas seperti rendang, gulai, dan opor ayam sarat akan lemak jenuh. Jika disantap tanpa batas dan tak diimbangi aktivitas fisik, risiko penyakit jantung pun meningkat.
Masalah lain yang sering muncul adalah asam urat. Daging merah, jeroan, dan seafood yang menjadi favorit banyak orang ternyata bisa memicu serangan asam urat akut. Nyeri sendi, terutama di bagian kaki dan tangan, kerap muncul beberapa hari setelah pesta makanan usai.
Sementara itu, lambung juga turut jadi korban. Setelah sebulan dilatih makan teratur, kini harus menghadapi pola makan acak dan berlebihan. Akibatnya, banyak orang mengeluh maag, mulas, dan kembung parah hanya dalam hitungan hari usai Lebaran.
Hipertensi pun tak kalah berbahaya. Garam dalam berbagai olahan makanan Lebaran dapat membuat tekanan darah melonjak tanpa disadari. Opor ayam dengan santan dan sambal goreng ati bisa jadi bom waktu bagi penderita darah tinggi.
Ida mengingatkan, “Pola makan tinggi garam dan lemak harus dikontrol. Jangan menunggu gejala muncul baru menyesal.”
Yang terakhir dan tak kalah sering dialami: berat badan melonjak. Puasa memberikan efek penurunan berat badan bagi sebagian orang, namun semua itu bisa hilang hanya dalam seminggu Lebaran jika tidak hati-hati dalam mengatur makan.
“Makan bisa kapan saja, porsi tak terkendali, aktivitas menurun. Ini kombinasi yang sempurna untuk naik berat badan secara cepat,” kata Ida.
Lantas, apa yang bisa dilakukan? Jawabannya bukan larangan makan, tapi bijak dalam mengatur asupan. Mulailah dengan porsi kecil, perbanyak sayur dan buah, batasi santan dan gorengan, serta tetap aktif bergerak meski dalam suasana liburan.
Lebaran seharusnya menjadi momen kemenangan, bukan awal dari derita kesehatan. Jangan biarkan satu hari pesta menjadi awal dari berbulan-bulan pengobatan. Tubuh yang sehat jauh lebih berharga dari semangkuk opor atau sepotong nastar.
Karena sejatinya, kemenangan sejati bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan diri dari nafsu yang merusak tubuh. (**)