Iran menegaskan tidak akan menghentikan program nuklir sipilnya meski fasilitasnya diserang oleh Amerika Serikat. Serangan pada Minggu (22/6/2025) menyasar tiga fasilitas pengayaan uranium Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan, namun tak membuat negara itu mundur.
Juru Bicara Organisasi Energi Atom Iran, Behrouz Kamalvandi, menyatakan bahwa upaya pengembangan nuklir damai akan terus dilanjutkan.
“Mereka harus tahu bahwa industri ini memiliki akar di negara kami yang tidak bisa disingkirkan. Tentu saja kami dirugikan, tetapi ini bukan pertama kali industri (nuklir) menjadi sasaran,” ujar Kamalvandi, dikutip dari kantor berita Tasnim.
Dia juga menegaskan bahwa tidak ada tanda-tanda kebocoran radiasi pasca serangan dan Iran mampu memulihkan kembali kerusakan. “Dengan mempertimbangkan kemampuan dan potensi, tentu saja industri ini harus terus ada, perkembangannya tidak akan bisa dihentikan,” lanjutnya.
Senada dengan itu, Penasihat Utama Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yaitu Ali Shamkhani, juga menegaskan keteguhan Iran.
“Bahkan jika situs nuklir dihancurkan, permainan belum berakhir. Material uranium yang diperkaya tetap ada… Kejutan akan terus berlanjut!” tulis Shamkhani di platform X.
Meski Presiden AS Donald Trump mengklaim serangan itu untuk melumpuhkan kemampuan nuklir Iran, namun Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menegaskan belum ada bukti bahwa Iran mengejar senjata nuklir. Bahkan, komunitas intelijen AS dan mantan Duta Besar Inggris Craig Murray pun menilai Iran selama ini bersikap sabar dan damai, meski kerap mendapat tekanan dari Israel.
Kesimpulannya, meski mengalami kerugian akibat serangan militer, Iran tetap berkomitmen untuk melanjutkan program nuklir sipilnya dan menegaskan bahwa kekuatan politik serta strategi damai akan terus mereka jaga di tengah tekanan internasional.