Kamis, April 23, 2026

Gelombang Unjuk Rasa Warnai AS Usai Trump Serang Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuai kecaman luas setelah mengklaim telah memerintahkan serangan terhadap tiga situs nuklir Iran di tengah meningkatnya ketegangan Israel-Iran. Serangan terhadap fasilitas Fordow, Natanz, dan Isfahan itu memicu reaksi keras dari publik dan sejumlah anggota Kongres AS. Langkah Trump dianggap sepihak dan melanggar konstitusi karena dilakukan tanpa persetujuan Kongres.

Respons dari warga Amerika pun meledak. Ribuan demonstran turun ke jalan di berbagai kota besar seperti San Diego, New York, dan Washington D.C., membawa spanduk bertuliskan “Trump Harus Pergi” dan “Tidak Ada Perang Atas Nama Kami.” Aksi unjuk rasa ini digerakkan oleh kelompok anti-perang seperti Koalisi ANSWER dan Partai Sosialisme dan Pembebasan, yang menolak keterlibatan militer AS dalam konflik Timur Tengah.

Para politisi dari Partai Demokrat mengecam keras tindakan Trump. Mereka menyebutnya ilegal dan berbahaya, serta menyerukan pemakzulan karena presiden dianggap menyalahgunakan kekuasaan. Anggota Kongres Sean Casten dan Alexandria Ocasio-Cortez menegaskan bahwa keputusan Trump berisiko menyeret AS dalam perang berkepanjangan dan bertentangan dengan janjinya sebagai pembawa damai.

Tak hanya dari oposisi, kritik juga datang dari sebagian anggota Partai Republik. Serangan ini dinilai memicu krisis kepercayaan dalam negeri dan membahayakan posisi politik Trump menjelang pemilu. Di tengah gempuran protes dan tekanan politik, gelombang penolakan terhadap agresi militer ini diperkirakan akan terus meluas ke berbagai komunitas di AS dan dunia.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.