Muhammadiyah menyatakan kesiapannya untuk menyalurkan 30 ton beras bantuan dari Uni Emirat Arab (UEA) kepada masyarakat terdampak bencana banjir di wilayah Sumatra. Muhammadiyah menegaskan bahwa penyaluran bantuan kemanusiaan tersebut tidak bergantung pada penetapan status kebencanaan oleh pemerintah.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Penanggulangan Bencana menyampaikan bahwa prinsip utama Muhammadiyah adalah respon cepat terhadap penderitaan masyarakat, sehingga bantuan akan tetap disalurkan meski belum ada penetapan status darurat tertentu.
Bantuan beras sebanyak 30 ton tersebut berasal dari Uni Emirat Arab, yang bekerja sama dengan Muhammadiyah dalam misi kemanusiaan. Bantuan ini direncanakan untuk disalurkan ke wilayah-wilayah di Sumatra yang terdampak banjir, khususnya di Sumatra Utara, yang mengalami dampak cukup signifikan akibat cuaca ekstrem.
Muhammadiyah menilai bantuan pangan sangat dibutuhkan karena banyak warga terdampak kehilangan akses terhadap kebutuhan pokok akibat banjir dan terganggunya distribusi logistik.
Muhammadiyah menegaskan bahwa fokus utama mereka adalah menyelamatkan dan membantu masyarakat, bukan menunggu proses administratif. Organisasi tersebut menilai bahwa bantuan kemanusiaan harus bergerak cepat ketika masyarakat membutuhkan, tanpa terhambat oleh status formal kebencanaan.
Penyaluran beras bantuan ini akan dilakukan melalui jaringan Muhammadiyah di daerah, termasuk lembaga kebencanaan dan relawan yang sudah berada di lokasi terdampak banjir. Muhammadiyah memastikan distribusi dilakukan secara bertahap dan tepat sasaran.
Selain bantuan beras, Muhammadiyah juga menyatakan akan terus memantau perkembangan kondisi di Sumatra dan siap memberikan bantuan lanjutan jika diperlukan. Organisasi ini mengajak berbagai pihak untuk bergotong royong membantu masyarakat yang terdampak bencana.
Muhammadiyah berharap bantuan dari UEA ini dapat meringankan beban masyarakat, terutama di tengah kondisi sulit akibat bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra.