Selasa, April 28, 2026

Bagaimana Nabi Muhammad SAW Tarawih? Apakah Sebulan Penuh?

MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Bulan Ramadhan adalah saat di mana umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah. Salah satu ibadah yang begitu lekat dengan bulan ini adalah sholat tarawih. Dari masjid besar hingga surau kecil, suasana malam Ramadhan dihiasi dengan lantunan ayat suci dalam sholat sunnah ini. Namun, muncul satu pertanyaan yang kerap menggelitik: Apakah Nabi Muhammad SAW melaksanakan tarawih secara penuh selama sebulan?

Jawaban atas pertanyaan ini tidaklah sesederhana hitam dan putih. Dalam ceramahnya, ulama ahli tafsir asal Indonesia, Gus Baha, memberikan pandangan yang membuka wawasan. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW tidak menjalankan sholat tarawih setiap malam selama bulan Ramadhan. Hal ini bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari kebijaksanaan beliau dalam menjaga fleksibilitas ibadah bagi umatnya.

Dalam suatu video di kanal YouTube @NASEHATULAMA_83, Gus Baha menguraikan dengan gaya khasnya yang ringan dan penuh humor. Ia menjelaskan bahwa jika Nabi Muhammad SAW secara konsisten melaksanakan tarawih setiap malam, dikhawatirkan umat akan menganggapnya sebagai kewajiban, bukan lagi sunnah. Oleh karena itu, Nabi memilih untuk mengerjakan tarawih dalam beberapa malam saja, lalu melanjutkannya di rumah.

Dalam sejarahnya, Nabi Muhammad SAW pernah melaksanakan sholat tarawih berjamaah selama beberapa malam. Namun, ketika para sahabat mulai berbondong-bondong mengikuti, beliau memilih untuk tidak keluar ke masjid lagi. Bukan karena meninggalkan ibadah, tetapi agar tidak menjadi beban syariat yang bisa membuat umat merasa terpaksa.

Gus Baha menegaskan bahwa tarawih memiliki keutamaan besar, tetapi bukan suatu keharusan. Umat Islam tidak berdosa jika tidak mampu melaksanakannya penuh selama sebulan. Namun, bagi mereka yang memiliki kesempatan, sebaiknya tetap menjaganya sebagai bentuk kecintaan terhadap sunnah Rasulullah.

Dalam ceramah yang diunggah oleh channel @pati_unus, Gus Baha bahkan mengakui bahwa dirinya tidak pernah sholat tarawih penuh selama 30 malam berturut-turut. “Kulo dereng nate, traweh Ramadhan ping 30 genep, sewulan, nganti sakniki. Ning ojo ditiru,” katanya, yang berarti ia tidak pernah tarawih penuh satu bulan hingga kini, meski ia tidak menyarankan untuk mengikuti jejaknya begitu saja.

Gus Baha juga menyebut bahwa dirinya tidak menyembunyikan fakta tersebut. Tetangga-tetangganya pun mengetahui bahwa ia tidak selalu mengikuti tarawih berjamaah. Namun, ini bukan karena ia meremehkan ibadah tersebut, melainkan karena pemahamannya terhadap esensi sunnah yang lebih luas.

Keputusan Nabi Muhammad SAW untuk tidak tarawih penuh justru merupakan bentuk kasih sayangnya kepada umat. Dengan begitu, tidak ada yang merasa terpaksa atau terbebani dalam beribadah. Islam adalah agama yang penuh dengan kemudahan, dan ibadah harus dilakukan dengan keikhlasan, bukan sekadar formalitas atau tekanan sosial.

Gus Baha juga mengingatkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang ingin melaksanakan tarawih tetapi terhalang oleh pekerjaan mereka. Satpam, pedagang kaki lima, pengemudi, dan pekerja malam lainnya sering kali tidak bisa mengikuti tarawih secara penuh. Jika tarawih dianggap wajib, maka mereka yang tidak bisa melaksanakannya akan merasa bersalah atau bahkan dijauhi oleh masyarakat.

Dalam sebuah contoh yang menarik, Gus Baha menyebutkan bahwa jika semua ulama secara ketat mewajibkan tarawih, maka separuh umat Islam akan merasa bersalah karena tidak bisa menjalankannya. Oleh sebab itu, kebijaksanaan dalam memahami sunnah menjadi sangat penting agar Islam tetap menjadi agama yang membawa kedamaian dan kenyamanan bagi pemeluknya.

Mengakhiri penjelasannya, Gus Baha menekankan bahwa tarawih adalah ibadah yang sangat dianjurkan. Namun, bagi mereka yang memiliki keterbatasan, Allah tidak menjadikannya sebagai beban. Yang terpenting adalah menjaga kualitas ibadah dengan penuh keikhlasan dan tetap menjalankan esensi Ramadhan dengan baik.

Bulan Ramadhan hadir sebagai momentum untuk memperbanyak amal, tetapi juga untuk memahami kebijaksanaan dalam beribadah. Tarawih adalah anugerah, bukan kewajiban yang menekan. Dengan memahami hikmah di balik pilihan Nabi, umat Islam bisa menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan penuh makna. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.