MELIHAT INDONESIA – Kisah Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani, kembar siam yang lahir dengan kondisi kepala yang dempet dan menjalani operasi pemisahan yang dilakukan oleh Prof. Dr. Raden Mas Padmosantjojo, menjadi perhatian publik pada tanggal 21 Oktober 1987.
Kisah mereka menjadi headline di berbagai surat kabar dan menjadi sorotan di televisi pada saat itu.
Operasi pemisahan kembar siam selalu menjadi perhatian besar karena kompleksitasnya serta risiko yang terlibat.
Operasi tersebut memerlukan tim medis yang terampil dan persiapan yang matang untuk memastikan keberhasilan dan keselamatan kedua anak tersebut.
Mengutip ilovelife.co.id, operasi pemisahan kepala si kembar tak hanya mendebarkan tetapi juga mengukir pengabdian dan prestasi di bidang kedokteran Indonesia , khususnya bidang bedah saraf, karena tingkat kesulitannya. Dn ini merupakan yang pertama di Indonesia kala itu.
Sebelum Dioperasi
Tiga bulan sebelumnya, Yuliana-Yuliani dilahirkan dari rahim ibunya, Hartini, lewat operasi caesar di Rumah Sakit Umum Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Kembar siam ini lahir dengan kondisi dempet kepala secara vertikal (kraniopagus).
Sebenarnya, ayah si kembar, Tulardji, sudah menyiapkan dana untuk biaya persalinan istrinya sekitar Rp 4 juta. Namun, dia sudah kehabisan uang untuk perawatan bayinya yang lahir kembar siam. Maklum, Tulardji sehari-harinya hanya seorang tukang batu. Dia cuma lulus SD.
”Begitu tahu bayi saya yang kembar dalam kondisi begitu, saya sempat pingsan. Saya merasa pusing, seolah tidak ada jalan solusi,” kata pria kelahiran 1961 tersebut kepada sebuah koran kenamaan di Jawa Timur.
Sedangkan Hartini tidak bisa langsung menemui anaknya setelah persalinan. Pihak rumah sakit maupun Tulardji sengaja merahasiakan keadaan sang bayi agar psikologi Hartini tidak terganggu.
Ibu kelahiran 1965 ini baru mengetahui kondisi buah hatinya beberapa hari sebelum Yuliana-Yuliani dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta.
Dokter anak RSU Tanjung Pinang, Bambang Sumantri merujuk Yuliana-Yuliani ke RSCM. Setelah 20 hari menyapa dunia, kembar siam yang akrab disapa Ana-Ani akhirnya dibawa ke Jakarta dengan bantuan biaya dari Pemerintah Provinsi Riau.
Kisah Pemisahan Bayi Kembar

Untuk memisahkan Ana dan Ani, sebanyak 41 dokter dilibatkan. Padmosantjojo menjadi pemimpin tim sebagai ahli bedah saraf. Pemisahan Ana-Ani terbilang rumit. Bayi kembar siam dempet kepala tersebut hanya memiliki satu pembuluh darah (sinus sagitalis) di otaknya.
Agar keduanya bisa tetap hidup, pembuluh darah yang tipis itu harus dibelah menjadi dua. Satu untuk Yuliana dan satu lagi buat Yuliani. “Pemisahan ini seperti membelah uang kertas, tanpa merusak gambar pada sisi masing-masing,” tutur Padmo.
Padmosantjojo harus membelah perlengketan selaput (duramater) otak dan pembuluh darah vena (sinus sagitalis) setebal 2,5 mm tanpa lecet dengan mata telanjang.
Sebelumnya cara tersebut tidak pernah dilakukan pakar bedah saraf di dunia. Biasanya tindakan yang dilakukan para dokter saraf adalah memberikan seluruh pembuluh darah ke salah satu bayi kembar siam. Sedangkan satu bayi lainnya akan diberikan pembuluh darah buatan hasil cangkokan.
Akhirnya, Padmosantjojo bersama timnya berhasil memisahkan Ana-Ani dalam operasi yang berlangsung 13 jam. Fenomena tersebut terbilang langka dan ajaib.
Sebab, pertama kalinya di Indonesia pemisahan bayi kembar siam yang dempet pada tengkorak kepala dilakukan. Hasilnya pun sukses. Kendati menjadi salah satu fenomena dunia kedokteran Indonesia, pemerintah tidak membantu biaya operasi sebesar Rp 42 juta itu. Biaya tersebut murni dikeluarkan dari kantong sang dokter.
Menjadi Anak Sang Dokter

Setelah operasi berhasil, Padmosantjojo bersikeras untuk merawat Ana-Ani di Jakarta. Sebab, dokter yang hobi melukis dan menyanyi itu khawatir Tulardji tidak sanggup memenuhi kebutuhan Ana-Ani. Padahal, pada usia balita, bayi sangat rentan terhadap penyakit.
Dengan pertimbangan tersebut, Ana-Ani tetap dirawat secara intensif oleh Padmosantjojo. Bahkan, Tulardji dan Hartini serta ibu Tulardji ikut tinggal di Jakarta. Padmo menanggung seluruh biaya hidup mereka. Ana-Ani diangkat menjadi anak.
Pada 1994, Padmo membolehkan Ana-Ani dan keluarganya pulang ke Tanjung Pinang. Tapi itu bukan berarti dia berhenti mengurus Ana-Ani.
Dokter kelahiran Kediri, 26 Februari 1937 ini tetap membiayai kebutuhan Ana-Ani di Tanjung Pinang. Dia juga memberikan modal usaha untuk Tulardji.
Yuliana-Yuliani selalu mengirim rapor atau nilai Indeks Prestasi mereka ke Padmosantjojo setiap kenaikan kelas maupun pergantian semester ketika mereka masih di bangku sekolah dan kuliah.
Sedangkan Padmosantjojo membalasnya dengan membelikan berbagai keperluan Yuliana-Yuliani seperti sepatu, tas, dan lain-lain.
Tidak hanya itu, Yuliana-Yuliani juga melaporkan hal-hal kecil tentang perkembangan mereka. Misalnya, sepatu mereka yang sudah tidak cukup atau celana jins mereka yang kekecilan. Saking akrabnya, mereka pun menyapa Padmosantjojo: Pakde.
Kehidupan Si Kembar Kini
Kini Padmosantjojo boleh bangga dengan anak angkatnya. Meski lahir dengan kondisi kembar siam, mereka bisa bersaing dengan anak lain yang terlahir normal untuk mencari cara agar lebih mencintai hidup, Ani mengikuti jejak Padmo menjadi dokter, yang diakui sebagai sumber inspirasinya.

Dia sedang magang sebagai dokter di Puskesmas Seberang Padang, Kota Padang, Sumatera Barat, setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universtas Andalas Padang dengan IPK 4. Adapun Ana tengah menjalani semester ketiga program doktor ilmu nutrisi dan teknologi di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Meski tidak mengarahkan anak angkatnya menjadi dokter, Pakde tetap menanamkan nilai-nilai luhur yang tetap dia pegang hingga kini. “Pakde selalu mengajar kami berbagi dengan orang lain dan memberi manfaat bagi orang banyak,” kata Ani
Kasih sayang antar sesama membuat hubungan mereka seperti pertalian orangtua dengan anak kandung.
Pakde pun menjelaskan alasannya tidak memungut bayaran dari pasiennya tersebut. “Saya sering menyaksikan penderitaan. Akibatnya, saya tidak pernah tahan melihat penderitaan orang lain. Saya sering larut dalam kesedihan orang lain. Perasaan ingin menolong inilah yang menjadi penyebab saya memilih menjadi dokter dan kemudian menjadi ahli bedah saraf,” katanya. (**)