MELIHAT INDONESIA, PRANCIS – Seorang dokter bedah di Prancis, Joel Le Scouarnec, tengah menjalani sidang atas kejahatan seksual terhadap 299 pasiennya, mayoritas adalah anak-anak. Selama tiga dekade, ia diduga melakukan pelecehan di rumah sakit tempatnya bekerja, menjadikan ruang operasi sebagai tempat berburu korban tanpa curiga.
Sidang kasus ini digelar di Pengadilan Vannes, Prancis, dengan perhatian besar dari publik. Le Scouarnec mengakui perbuatannya, meski tak satu pun dari korban menyadari pelecehan yang mereka alami saat itu.
“Saya telah melakukan hal mengerikan,” ucapnya dingin di persidangan, seperti dikutip dari The Guardian. Namun, pengakuannya tak menghapus derita korban yang bertahun-tahun hidup dalam trauma.
Monster Berkedok Jubah Dokter
Kejahatan Le Scouarnec terjadi dalam rentang 1989 hingga 2014, saat ia bertugas di berbagai rumah sakit di wilayah barat Prancis. Korbannya sebagian besar anak-anak berusia 11 tahun yang sedang menjalani perawatan medis.
Skandal ini terbongkar pada 2017, ketika seorang gadis kecil yang menjadi tetangganya melaporkan perbuatan bejatnya. Dari laporan itu, polisi mulai menyelidiki kasusnya dan menemukan bukti mengerikan di kediaman Le Scouarnec.
Tak hanya mengoleksi 300 ribu gambar dan video pelecehan anak, polisi juga menemukan buku catatan yang mendokumentasikan setiap aksi kejinya secara detail. Bahkan, di bawah lantai rumahnya, tersembunyi koleksi boneka berukuran manusia yang diduga menjadi bagian dari penyimpangan seksualnya.
Sistem Gagal, Kejahatan Berulang
Terungkap bahwa Le Scouarnec sebenarnya sudah pernah dihukum pada 2005 karena kepemilikan konten pelecehan anak. Namun, ia tetap diizinkan berpraktik sebagai dokter.
Publik pun bertanya-tanya, bagaimana seorang pelaku pedofilia bisa tetap bekerja di rumah sakit selama bertahun-tahun tanpa pengawasan? Organisasi medis L’Ordre des Médecins dan Kementerian Kesehatan Prancis diduga menutup mata meski telah menerima laporan terkait perilakunya.
“Ini bukan hanya kegagalan individu, tapi kegagalan sistem kesehatan yang seharusnya melindungi pasien,” kata seorang pengacara korban.
Kesaksian Korban, Luka yang Tak Sembuh
Sidang kali ini menghadirkan kesaksian korban yang kini telah dewasa. Mereka mengungkap pengalaman pahit saat menjadi pasien Le Scouarnec.
“Saya ingat dia mengatakan semuanya baik-baik saja, padahal saya merasa aneh. Baru bertahun-tahun kemudian saya sadar telah dilecehkan,” ungkap salah satu korban.
Korban lain, yang saat kejadian masih berusia 10 tahun, mengaku mengalami mimpi buruk bertahun-tahun setelahnya.
“Saya pikir dokter adalah penyelamat. Saya tidak menyangka dia justru menghancurkan hidup saya,” katanya dengan suara bergetar.
Ancaman Hukuman dan Harapan Keadilan
Kini, Le Scouarnec menghadapi ancaman hukuman seumur hidup atas kejahatannya. Jaksa penuntut menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk memberi keringanan bagi seorang predator seperti dia.
“Orang ini adalah monster berbaju dokter. Hukum harus memberi keadilan bagi ratusan korban,” ujar jaksa dengan tegas.
Sidang yang diperkirakan berlangsung empat bulan ini akan menjadi ujian besar bagi sistem hukum dan medis Prancis. Publik menuntut reformasi besar-besaran dalam pengawasan tenaga kesehatan, agar tidak ada lagi dokter predator yang berkeliaran bebas.
Apapun putusan akhir nanti, kasus ini telah menjadi noda kelam dalam dunia medis. Para korban hanya bisa berharap, keadilan benar-benar ditegakkan. (**)