MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Perubahan signifikan dalam dunia keagamaan di Indonesia memicu keprihatinan banyak pihak, terutama dalam hal motivasi orang-orang yang memilih jalur sebagai kiai atau ustadz. KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau lebih dikenal sebagai Gus Baha, merupakan salah satu ulama terkemuka yang secara terbuka menyampaikan kritiknya terhadap fenomena ini dalam sebuah video yang viral di media sosial.
Dalam video tersebut, Gus Baha mengungkapkan kekecewaannya terhadap banyak individu yang berhasrat menjadi kiai, namun dengan niat yang tidak tulus. “Dulu, seorang kiai adalah sosok yang saleh dan alim, yang ingin membagikan ilmunya kepada orang lain,” ujar Gus Baha. Namun, kondisi saat ini menunjukkan banyak orang beralih menjadi kiai demi alasan yang lebih materialistis.
Gus Baha dengan tegas menyoroti fenomena di mana banyak calon kiai mendaftar untuk posisi di yayasan karena daya tarik gaji yang ditawarkan. “Ada lowongan di yayasan, dan orang-orang pun berbondong-bondong melamar,” ungkapnya. Pernyataan ini tentu saja memunculkan pertanyaan tentang keikhlasan dalam dakwah, yang seharusnya menjadi landasan utama bagi seorang ulama.
Ia melanjutkan, “Ada yang ingin jadi kiai karena gaji, padahal mental mereka sebetulnya bukan kiai.” Gus Baha menegaskan bahwa meskipun menjadi ustadz atau kiai merupakan profesi yang baik, niat yang tidak tulus akan mengurangi makna dan esensi dari peran tersebut. “Kalau ditanya baik atau tidak, saya bilang setengah baik,” tambahnya, menunjukkan keraguan terhadap integritas motivasi tersebut.
Gus Baha juga menyoroti perubahan persepsi masyarakat mengenai profesi kiai yang kini sering dianggap sebagai pilihan menjanjikan secara finansial. Hal ini, menurutnya, dapat berdampak negatif terhadap kualitas pengajaran agama. “Ada yang datang untuk mengajar, tetapi tidak memahami hakikatnya. Ini yang berbahaya,” ucapnya, menunjukkan kekhawatirannya terhadap masa depan pengajaran agama di Indonesia.
Kritiknya mengajak masyarakat untuk lebih cermat dalam memilih pemimpin agama, serta kembali pada nilai-nilai keikhlasan dalam menjalani peran sebagai ulama. “Kita perlu kiai yang benar-benar tulus, yang berkomitmen untuk menuntun masyarakat ke arah yang benar,” ungkap Gus Baha. Ini merupakan pesan penting, terutama bagi generasi muda yang tengah mencari panutan dalam kehidupan beragama di tengah dinamika sosial yang terus berubah.
Gus Baha mengajak semua orang untuk merenungkan kembali niat dan motivasi mereka dalam berkontribusi kepada umat. “Jadilah kiai yang benar-benar ingin berkontribusi untuk umat, bukan sekadar mencari gaji,” pesannya, dengan harapan bahwa niat yang tulus dapat membantu masyarakat memahami agama dengan lebih baik dan tidak terjebak pada motivasi materi belaka.
Melalui sindiran dan kritik yang disampaikannya, Gus Baha menegaskan bahwa kualitas seorang ulama seharusnya dinilai berdasarkan keikhlasan dan kesungguhan dalam menyebarkan ajaran agama, bukan seberapa besar gaji yang mereka terima. Ia berharap, para ulama, terutama generasi muda, dapat menjalankan peran mereka dengan penuh keikhlasan, sehingga dakwah yang mereka sampaikan lebih berkualitas dan berdampak positif bagi masyarakat luas. (**)