Selasa, April 28, 2026

Gus Baha Ungkap Rahasia Puasa Ulama Dulu, Sederhana Banget

MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menyimpan hikmah mendalam yang diajarkan oleh para ulama terdahulu. Mereka memandang puasa dengan sudut pandang yang berbeda, menjadikannya sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah dan melatih kepekaan sosial.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha mengungkapkan bahwa memahami puasa melalui perspektif ulama terdahulu akan membuka wawasan baru tentang keistimewaan bulan suci ini.

“Kalau kita meniru ulama dulu, cara pandang kita terhadap Ramadan akan lebih benar,” ungkap Gus Baha dalam sebuah pengajian.

Dalam sebuah tayangan di kanal YouTube @Ingsun_santri, Gus Baha menegaskan bahwa salah satu manfaat utama puasa adalah melatih rasa lapar untuk memahami penderitaan orang yang kurang mampu.

“Dengan puasa, kita tahu bagaimana rasanya lapar. Betapa beratnya hidup orang miskin yang harus menahan lapar setiap hari. Ini mengajarkan kita untuk lebih menghargai makanan,” jelasnya.

Puasa juga membuat seseorang lebih bersyukur atas rezeki yang diterima. Makanan sederhana yang sering dianggap biasa bisa terasa sangat nikmat saat berbuka.

“Makanan yang sehar-hari kita anggap remeh, saat Ramadan jadi spesial. Bahkan air putih pun terasa istimewa,” tambahnya.

Menurut Gus Baha, Rasulullah menggambarkan Ramadan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami oleh umatnya. Ramadan bukanlah bulan yang hanya dipenuhi dengan ibadah berat, tetapi juga momen untuk menikmati berkah dalam hal-hal kecil.

“Rasulullah tidak mempersulit umatnya. Beliau memuji Ramadan dengan hal-hal yang dekat dengan kehidupan manusia,” kata Gus Baha.

Momen berbuka puasa adalah bukti bahwa setiap manusia, betapapun tingginya statusnya, tetap memiliki kebutuhan yang sederhana. Rasa bahagia saat berbuka menunjukkan betapa pentingnya makanan dalam kehidupan.

“Sebesar apapun ambisi seseorang, saat buka puasa yang dicari tetap makanan. Itulah bukti bahwa kebutuhan dasar manusia adalah hal yang sederhana,” jelasnya.

Bahkan bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan, momen berbuka puasa tetap menjadi kebahagiaan tersendiri meski hanya dengan makanan seadanya.

“Orang yang tak punya harta melimpah pun tetap merasa bahagia hanya dengan sepiring nasi dan segelas air saat berbuka,” lanjutnya.

Puasa juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Selain meningkatkan ketakwaan, puasa melatih seseorang untuk lebih peduli terhadap orang lain.

“Rasulullah mengajarkan empati melalui puasa. Dengan merasakan lapar, kita belajar memahami kondisi mereka yang kesulitan,” ujar Gus Baha.

Para ulama terdahulu memahami puasa bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial. Mereka menjadikan Ramadan sebagai momen untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan membantu sesama.

“Bagi ulama dulu, Ramadan adalah kesempatan untuk lebih banyak berbuat baik. Mereka memperbanyak ibadah dan menolong orang-orang di sekitarnya,” jelasnya.

Selain menahan lapar dan haus, Ramadan adalah waktu terbaik untuk meningkatkan ibadah lainnya seperti sholat malam, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah.

“Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga hati dan memperbanyak amal baik,” tambahnya.

Meneladani para ulama terdahulu dalam memahami Ramadan akan membuat ibadah puasa lebih bermakna. Ramadan bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi sebuah perjalanan spiritual yang membawa keberkahan.

“Kalau kita bisa mencontoh ulama dulu, Ramadan kita pasti lebih berarti. Bukan hanya lapar dan haus, tapi juga penuh hikmah dan keberkahan,” pungkas Gus Baha. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.