Rabu, Mei 27, 2026

Kisah Mbah Moen dan Santrinya yang Nakal, Diceritakan Gus Baha

MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Kasih sayang seorang kiai besar sering kali melampaui batas-batas formalitas dan disiplin yang berlaku di pesantren. Kiai Haji Maimoen Zubair, atau Mbah Moen, adalah salah satu sosok yang menunjukkan kasihnya kepada para santri, termasuk mereka yang nakal atau melanggar aturan.

Dalam pandangan Mbah Moen, setiap santri, terlepas dari kesalahan yang mereka buat, tetaplah bagian dari keluarganya. Ia menganggap mereka sebagai “santriku dunya akhirat,” menegaskan betapa dalamnya rasa cinta dan pengampunan yang diberikan kepada murid-muridnya.

Dikutip dari kanal YouTube @alqolbumutayyam89, Gus Baha menceritakan bagaimana Mbah Moen selalu memperlakukan santrinya dengan penuh kasih, meskipun mereka nakal. Ia pernah mengatakan, “Yo cung kudune koe diboyong cara aturan Pondok, nak aturane pangeran koe tobat dadi wong apik dadi wong salah kudu tetep sering rene, koe tetep santriku dunya akhirat.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa Mbah Moen memilih untuk membimbing dan mengingatkan santri yang nakal, alih-alih mengeluarkan mereka dari pondok.

Mbah Moen percaya bahwa setiap santri yang nakal masih memiliki potensi untuk berubah dan menjadi lebih baik. “Mbah Moen menekankan bahwa santri yang nakal tetap dianggap sebagai bagian dari pondok dan harus terus diberikan bimbingan,” ujar Gus Baha.

Gus Baha melanjutkan dengan menyatakan bahwa Mbah Moen adalah sosok bijaksana yang mencerminkan kasih sayang Nabi Muhammad SAW. Ia tidak hanya mengajarkan aturan dan disiplin, tetapi juga memberi perhatian dan cinta kepada santrinya.

Dalam pandangan Gus Baha, pendekatan Mbah Moen dalam mendidik adalah contoh ideal bagi pendidik lainnya. “Kisah Mbah Moen ini menunjukkan betapa pentingnya bimbingan dan kasih sayang dalam pendidikan, tidak hanya pada aturan tetapi juga pada pembinaan spiritual.”

Mbah Moen mengajarkan bahwa mendidik tidak hanya soal menegakkan disiplin, tetapi juga tentang membangun hubungan yang penuh kasih. “Pendidik seharusnya tidak hanya fokus pada aturan, tetapi juga memberikan kasih sayang dan perhatian kepada para santrinya,” tegas Gus Baha.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa dalam pendidikan, terutama di pesantren, kasih sayang adalah kunci utama untuk membentuk generasi yang baik. Gus Baha mengajak kita semua untuk meneladani sikap Mbah Moen dalam mendidik dan membimbing generasi muda.

“Mbah Moen adalah pengingat bahwa dalam mendidik, kasih sayang dan perhatian adalah hal yang sangat penting,” pungkas Gus Baha. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.