MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Dengan hiruk-pikuk metropolitan yang tak pernah tidur, ternyata menyimpan ancaman besar yang datang dari Selat Sunda. Di balik rutinitas warga ibu kota, ancaman gempa megathrust yang dapat mencapai magnitudo hingga 9,1 terus mengintai. Peneliti dan pakar kebencanaan telah lama memperingatkan potensi gempa dahsyat yang bisa memicu tsunami besar, menyusul akumulasi energi di zona subduksi selatan Jawa.
Nuraini Rahma Hanifa, seorang peneliti di Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menegaskan bahwa ancaman ini bukan isapan jempol. “Potensi megathrust ini dapat memicu guncangan besar dan tsunami yang menjalar melalui Selat Sunda hingga mencapai Jakarta dalam waktu sekitar 2,5 jam,” ungkapnya dalam peringatan 20 tahun tsunami Aceh di Banda Aceh, baru-baru ini. Penelitiannya menunjukkan bahwa ancaman tsunami ini dapat menyerupai bencana besar di Aceh pada 2004.
Simulasi yang Mengguncang Kesadaran
BRIN bersama sejumlah institusi lainnya telah melakukan simulasi untuk memahami dampak gempa megathrust di Selat Sunda. Hasilnya mencengangkan: tinggi gelombang tsunami di pesisir selatan Jawa dapat mencapai 20 meter, sementara di Selat Sunda berkisar antara 3 hingga 15 meter. Bahkan, gelombang setinggi 1,8 meter diperkirakan mampu menjangkau pesisir utara Jakarta.
Fenomena ini mengingatkan kita pada tsunami Pangandaran 2006, yang dipicu oleh marine landslide di dekat Nusa Kambangan. Menurut Nuraini, akumulasi energi di zona subduksi selatan Jawa terus meningkat seiring waktu. Jika energi ini dilepaskan sekaligus, dampaknya bisa sangat luas, termasuk pada pesisir utara Jawa yang selama ini dianggap lebih aman.
Retrofitting, Langkah Mitigasi yang Mendesak
Di tengah kepadatan penduduk Jakarta, struktur tanah aluvial di bawah ibu kota menjadi perhatian utama. Tanah ini dikenal rentan memperkuat getaran gempa, meningkatkan risiko kerusakan masif. Oleh karena itu, Nuraini menekankan pentingnya retrofitting atau penguatan struktur bangunan, terutama di kawasan padat penduduk.
“Retrofitting sangat penting untuk meminimalkan kerusakan bangunan akibat guncangan kuat. Langkah ini dapat menyelamatkan banyak nyawa,” jelas Nuraini. Sayangnya, hingga kini, belum semua bangunan di Jakarta memenuhi standar ketahanan gempa yang memadai.
Ancam Pesisir, Namun Jakarta Tak Sepenuhnya Aman
Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta, Mohamad Yohan, mengungkapkan bahwa meski ancaman tsunami di Jakarta relatif kecil, efeknya tetap tak bisa diabaikan. “Jakarta memang tidak langsung menghadap Samudra Hindia, namun gelombang besar dari arah selatan bisa mencapai pesisir utara,” katanya.
Wilayah sekitar Jakarta, seperti Banten dan Anyer, disebut Yohan memiliki risiko lebih tinggi terhadap tsunami langsung. Meski begitu, kota-kota pesisir ini tetap menjadi pengingat bahwa ancaman gempa megathrust adalah ancaman regional yang tidak mengenal batas administratif.
Perspektif dari Data BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan data tambahan untuk menilai risiko tsunami di Jakarta. Berdasarkan Peta Risiko Tsunami Indonesia, tingkat ancaman di Jakarta tergolong rendah dengan ketinggian gelombang tsunami di pantai Jakarta diperkirakan kurang dari satu meter. Meski demikian, faktor amplifikasi tanah aluvial di Jakarta tetap menjadi perhatian, mengingat dampaknya pada getaran gempa.
Zona Megathrust: Ancaman Tak Terelakkan
Eks Ketua Ikatan Alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (IKAMEGA), Subardjo, pernah menyebut zona megathrust Selat Sunda sebagai seismic gap—area dengan aktivitas seismik rendah tetapi menyimpan energi besar. “Jika megathrust ini pecah, guncangan besar berpotensi memengaruhi Jakarta karena jaraknya hanya 200-250 kilometer,” ujarnya.
Menurut Subardjo, kekhawatiran utama bagi Jakarta bukan hanya tsunami, tetapi amplifikasi getaran akibat tanah aluvial. Hal ini dapat memperbesar amplitudo gempa, sehingga merusak infrastruktur secara signifikan.
Mengantisipasi yang Terburuk
Mitigasi bencana menjadi prioritas untuk menghadapi potensi gempa megathrust. Langkah seperti edukasi masyarakat, pembangunan jalur evakuasi, dan simulasi bencana harus digencarkan. Jakarta, dengan kompleksitasnya sebagai ibu kota, perlu menempatkan mitigasi bencana di posisi teratas agenda pemerintah.
Tidak hanya itu, kolaborasi antarwilayah sangat diperlukan. Gempa dan tsunami adalah ancaman yang melintasi batas geografis, sehingga strategi mitigasi harus melibatkan seluruh daerah yang berpotensi terdampak.
Pelajaran dari Tsunami Aceh
Dua dekade setelah tsunami Aceh, Indonesia diingatkan kembali akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam. Tragedi ini membuktikan bahwa kekuatan alam tidak dapat diremehkan. Oleh karena itu, belajar dari pengalaman adalah kunci untuk melindungi masa depan.
Selat Sunda, dengan segala potensinya, menjadi pengingat bahwa ancaman megathrust bukan hanya masalah pesisir selatan Jawa. Jakarta, sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan, juga memiliki peran besar dalam memastikan ketahanan masyarakatnya menghadapi bencana. Dengan langkah mitigasi yang tepat, ancaman ini bisa diminimalkan, memberikan harapan bagi jutaan penduduk ibu kota dan sekitarnya. (**)