Jumat, Mei 15, 2026

Menkes Yakin Ada Perundungan di Balik Kematian Dokter Aulia

MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Kasus kematian dokter Aulia Risma Lestari, mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) anestesi Universitas Diponegoro (Undip), kembali mencuat setelah sejumlah bukti dugaan perundungan (bullying) terungkap.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meyakini bahwa perundungan tersebut benar-benar terjadi, berdasarkan temuan dari investigasi internal Kementerian Kesehatan yang meliputi tangkapan layar percakapan WhatsApp, catatan, dan beberapa rekaman suara.

“Yang saya lihat sudah jelas sekali,” kata Budi di RSUP dr Sardjito, Sleman, DIY, Rabu (28/8), dikutip cnnindonesia.com.

Meskipun bukti-bukti ini telah diserahkan kepada pihak kepolisian, Budi tidak merinci lebih lanjut tentang temuan-temuan tersebut. Ia hanya menegaskan, “Bukti-bukti perundungan itu sudah diserahkan ke polisi.”

Ayah Dokter Aulia Meninggal Dunia, Kesehatan Memburuk Pasca Kematian Putrinya

Di tengah berkembangnya kasus ini, kabar duka juga datang dari keluarga dokter Aulia. Ayah dokter Aulia meninggal dunia pada Selasa (27/8) setelah kondisi kesehatannya memburuk. Keluarga sempat ragu merujuk sang ayah ke RS Kariadi Semarang, mengingat insiden yang menimpa putri mereka di rumah sakit tersebut. Akhirnya, sang ayah dirujuk ke RSCM Jakarta, namun kesehatannya tidak kunjung membaik.

“Saya tawarkan lah di RSCM. Jadi waktu saya pulang, langsung bapaknya dibawa ke RSCM,” kata Budi. Ia menambahkan, “Mereka sudah ada di RSCM sekitar tiga hari.”

Budi tidak menjelaskan secara gamblang soal faktor lain atau kemungkinan penyakit yang diderita ayah dokter Aulia. Namun, menurutnya, kondisi kesehatan ayah dokter Aulia menurun setelah kematian sang putri. “Dia masuknya ke rumah sakit memang sesudah kematian,” ujarnya.

Desakan Alumni Undip: Usut Tuntas Dugaan Perundungan

Dewan Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Diponegoro (DPP IKA UNDIP) mendesak agar dugaan perundungan yang diduga menjadi penyebab kematian dokter Aulia diusut tuntas.

“Kami mendesak agar semua bukti dan informasi yang relevan, termasuk buku catatan harian dan voicenote almarhum diperiksa secara mendalam untuk memastikan tidak ada aspek yang terlewat,” kata DPP IKA UNDIP dalam keterangannya, Rabu (28/8).

DPP IKA UNDIP juga menuntut penegakan hukum yang adil dan transparan, dengan harapan kasus ini dapat menjadi pelajaran untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Komitmen Rektor Undip: Sanksi Tegas Jika Perundungan Terbukti

Rektor Undip, Suharnomo, menegaskan komitmennya untuk menjatuhkan sanksi tegas kepada pelaku perundungan jika terbukti bersalah. Namun, hasil investigasi internal Undip sejauh ini belum menemukan bukti perundungan yang menjadi faktor penyebab dugaan bunuh diri tersebut.

“Kami tidak akan menutupi apa pun terkait kasus ini,” ujar Suharnomo. Ia menegaskan, “Jika perundungan itu bisa dibuktikan, pelakunya akan dikeluarkan.” (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.