MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Tidak banyak yang menyangka bahwa AKP Ulil Ryanto Anshari adalah seorang ahli dalam menjinakkan bom.
Sebelum bertugas di Polres Solok Selatan, ia pernah menjalani karir gemilang di berbagai posisi strategis.
Jejak Karir:
- Kepala Unit Penjinak Bom (Jibom) Brimob Polda Jawa Tengah.
- Kepala Sub Detasemen Wanteror Detasemen Gegana Satuan Brimob Polda Jawa Tengah.
- Komandan Peleton Penampungan Bintara Remaja.
Tak hanya itu, Ulil juga pernah menjabat sebagai Kapolsek Madukara di Kabupaten Banjarnegara. Prestasi ini diikuti dengan promosi menjadi Kasat Resnarkoba Polres Magelang pada 14 April 2022.
Jabatan terakhir yang diembannya adalah Kasat Reskrim Polres Solok Selatan, di mana ia baru mengabdi selama 11 bulan 29 hari.
Kejadian Nahas di Solok Selatan
Tragedi terjadi di Mapolres Solok Selatan pada Jumat, 22 November 2024. Korban, AKP Ulil Ryanto Anshari, ditembak dua kali di bagian kepala oleh AKP Dadang Iskandar. Meski sempat mendapatkan perawatan medis, nyawanya tidak tertolong akibat luka tembak yang mengenai organ vital.
Setelah kejadian, Dadang menyerahkan diri ke Polda Sumatera Barat dan kini telah ditetapkan sebagai tersangka.
Sosok AKP Ulil Ryanto Anshari
Profil Singkat:
Nama: AKP Ulil Ryanto Anshari
Usia: 34 tahun
Tempat Lahir: Makassar
Tanggal Lahir: 12 Agustus 1990
Lulusan Akademi Polisi (Akpol): Tahun 2012
Ulil dikenal sebagai perwira yang berdedikasi tinggi. Paman almarhum, Purnawirawan AKBP Joni Mangin, mengenang sosoknya sebagai anak yang baik dan peduli pada keluarga.
“Anak ini sangat baik, sangat peduli dengan keluarga, dan familiar dalam pergaulan,” kata Joni Mangin saat ditemui di rumah duka di Makassar.
Ulil merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dan menjadi tulang punggung keluarga. Informasi tentang kematiannya disampaikan langsung oleh Kapolsek Panakkukang, yang merupakan teman seangkatan di Akpol.
Kesan dari Rekan dan Jemaat Gereja
Ketua Majelis GPIB Jemaat Efrata Padang, Salmon Leatemia, juga mengenang almarhum sebagai pribadi yang baik, ramah, dan tekun beribadah.
“Kami biasa memanggil Bang Ulil. Beliau adalah jemaah kami di GPIB Efrata Padang. Sangat baik dan ramah,” ujar Salmon di sela-sela pelepasan jenazah di RS Bhayangkara Padang.
Duka di Balik Kehilangan
Kabar duka ini membuat keluarga, rekan kerja, dan masyarakat terkejut. Ibunda almarhum, yang sangat dekat dengannya, merasa kehilangan besar atas kepergian anak laki-laki satu-satunya.
Tragedi ini meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi institusi kepolisian yang kini dihadapkan pada ujian besar untuk mengusut tuntas kasus ini. (**)