Sabtu, April 25, 2026

Smash Keras dari Menag, MUI, dan Istana untuk Gus Miftah Sang Utusan Khusus Presiden

MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Ceramah Gus Miftah yang juga Utusan Khusus Presiden yang viral karena mengolok-olok penjual es teh, Pak Sunhaji, menuai reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk Menteri Agama (Menag), Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga Istana Kepresidenan. Insiden ini memunculkan peringatan serius terhadap para figur publik untuk menjaga lisan dan etika komunikasi di ruang publik.

Istana: Teguran Tegas untuk Gus Miftah
Istana Kepresidenan melalui Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, menyatakan bahwa Presiden Prabowo telah memberikan teguran keras kepada Gus Miftah melalui Sekretaris Kabinet.

“Presiden meminta Gus Miftah segera meminta maaf kepada Pak Sunhaji atas pernyataannya yang tidak pantas. Ini juga menjadi pengingat agar lebih berhati-hati dalam berbicara kepada publik,” ujar Hasan pada Rabu (4/12).

Tak lama setelah itu, Gus Miftah menyampaikan permohonan maafnya melalui video singkat. Dalam video tersebut, ia mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada masyarakat serta langsung bertemu dengan Pak Sunhaji.

Menag: Kontrol Diri Adalah Kunci
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya kontrol diri bagi seorang pejabat atau figur publik. Ia menyebut kasus ini sebagai pelajaran berharga, khususnya bagi Gus Miftah.

“Apa pun ini adalah pembelajaran bahwa ketika menjadi figur publik, kontrol diri sangat diperlukan. Identitas seorang publik figur sudah menjadi milik masyarakat,” kata Nasaruddin di Bogor.

Namun, ia juga mengimbau masyarakat untuk memahami bahwa Gus Miftah memiliki banyak peran, termasuk sebagai seniman, yang kadang bertindak dalam kapasitas informal.

MUI: Jaga Lisan, Jangan Tambah Masalah
Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, Cholil Nafis, menekankan pentingnya menjaga lisan dalam komunikasi, terutama bagi penceramah.

“Sebagai tokoh publik, setiap kata yang diucapkan mendapat perhatian besar. Jangan sampai materi yang disampaikan menimbulkan masalah baru,” ujar Cholil.

Ia juga mengapresiasi langkah Gus Miftah untuk meminta maaf secara terbuka. Namun, menurutnya, kejadian ini harus menjadi pelajaran agar tokoh masyarakat lebih bijak dalam berbicara, terutama saat berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Pelajaran untuk Semua Pihak
Kontroversi ini menyoroti pentingnya kesadaran dalam memilih kata, terutama bagi pejabat dan tokoh publik. MUI pun mengajak masyarakat untuk menjaga harmoni dalam berkomunikasi, baik di dunia nyata maupun maya.

“Kalau bercanda pun, sensitivitas publik harus tetap diperhatikan. Jangan sampai ada yang merasa terluka karena kata-kata yang tidak dipikirkan,” tutup Cholil.

Momentum Evaluasi
Teguran dari Menag, MUI, dan Istana diharapkan menjadi momentum evaluasi bagi Gus Miftah dan tokoh masyarakat lainnya untuk lebih berhati-hati dalam bertutur kata. Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa komunikasi publik memiliki dampak yang luas dan mendalam. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.