Kamis, Juni 18, 2026

Sejarah Kolak, Hidangan Khas Ramadan yang Sarat Makna

MELIHAT INDONESIA – Tak sedikit orang yang menjadikan kolak sebagai hidangan wajib tiap bulan Ramadan, khususnya pada waktu berbuka puasa.

Meski zaman terus berubah dan muncul banyak menu makanan dan minuman baru, kolak tetap eksis sebagai hidangan berbuka puasa.

Baik versi otentik, maupun hasil kreasi baru dengan menambahkan aneka isi dan pugasan (topping), kolak terus bertahan menjadi ikon menu Ramadan.

Sejarah kolak

Kolak adalah hidangan asli Indonesia, sebagaimana dinukil dari laman Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta.

Kolak lahir pada masa transisi kerajaan Demak, Pajang, kemudian Mataram Islam, kolak merupakan simbolisasi ajaran Islam yang di terjemahahkan ke dalam budaya Jawa.

Wajar jika tradisi memasak dan menghidangkan kolak sangat erat kaitannya dengan tradisi Islam di Nusantara, terutama ketika bulan suci Ramadan tiba.

Kolak yang otentik terdiri dari bahan dasar berupa pisang kepok, ubi, dan santan. Tiga bahan tersebut digunakan untuk simbolisasi. filosofi kolak

Kolak berasal dari kata bahasa Arab, “khala” yang artinya kosong. Harapannya, manusia harus dalam keadaan kosong dari segala dosa. Hidup itu harus di isi dengan aneka kebaikan dan menjauhkan hal-hal yang membuat dosa.

Sehingga, manusia harus selalu berusaha dalam keadaan kosong atau terhindar dari keburukan hidup.

Kolak juga berasal dari kata “kholaqo”. Kholaqo adalah kata turunan dari kholiq atau khaliq yang artinya adalah mencipta.

Sehingga, kolak juga memiliki makna bahwa kewajiban manusia hidup harus selalu mendekatkan diri kepada sang pencipta (Tuhan), agar hidupnya di dunia selalu mendapatkan keselamatan dan keberkahan hidup.

Nah, setelah mengulas sejarah kolak, berikut berbagai jenis kolak yang banyak beredar di masyarakat.

  • Ubi

Dalam tradisi Jawa, bahan makanan ubi atau ketela termasuk dalam kategori jenis makanan polo pendem, yang artinya tumbuh di bawah tanah(terpendam). Makna filosofinya bahwa, kematian tidak bisa dihindari , sudah menjadi ketetapan-Nya. Hendaknya , selama manusia hidup harus selalu menjalankan kebaikan hidup. Apabila masih banyak dosa-dosa dan melakukan perbuatan buruk, maka secepatnya manusia harus menjalani pertobatan, mumpung masih diberi kesempatan hidup.

  • Pisang Kepok

Kata “kepok” merupakan idiom dari kata kapok, dari kapok menjadi kepok. Secara filosofi, manusia yang telah berlumur dosa berkubang dalam tindakan yang tidak terpuji dan beradab, dan harus cepat-cepat untuk insaf atau kapok. Manusia harus bercermin dan introspeksi diri dengan apa yang telah dilakukan. Manusia harus selalu kapok, tobat dan insyaf. Hal tersebut semata untuk menjaga derajat keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan.

  • Santan

Santan berasal dari bahasa jawa “santen” yang merupakan idiom dari kata pangapunten. Sehingga ketika kita makan kolak, yang memiliki cita rasa manis dan gurih dari santan, harus dimaknai sebagai pengingat akan kesalahan-kesalahan kita pada seseorang yang telah kita dustai atau kita sakiti. Jadi kita harus secepatnya untuk nyuwun pangapunten, meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Kolak bukan sekedar hidangan berbuka, ada filosofi dan nasihat yang terkandung di dalamnya. Selamat berbuka dan menikmati kolak, manis lahir dan batin. (*)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.