MELIHAT INDONESIA – Hinaan atau penghinaan dari orang lain seringkali menjadi ujian berat bagi seseorang. Namun, menurut Gus Baha, seorang ulama yang terkenal akan pemikirannya yang mendalam, ada jawaban unik dalam menghadapi situasi tersebut.
Dalam sebuah pengajian yang diunggah ulang di kanal YouTube Khovil_Ipm031, Gus Baha memberikan perspektif yang menarik tentang sikap yang seharusnya diambil ketika dihina oleh orang lain.
Menurutnya, penghinaan itu sendiri dapat dianggap sebagai sebuah bentuk ibadah. “Dinyek wong iku ibadah, sing ngenyek kui kersane Allah. Kersane Allah iku mesti apik,” ungkap Gus Baha.
Gus Baha menambahkan bahwa dalam kisah Sayid Jafarsodiq, putra Sayid Muhammad Bakir, terdapat pelajaran berharga tentang kesabaran dan keyakinan kepada Allah SWT. Meskipun mendapat perlakuan buruk hingga dicela, Sayid tersebut tetap tenang dan tidak marah. “Apa kamu melihat saya orang yang tidak percaya qodho dan qadar Allah. Apa yang saya pikirkan saat kamu melakukan itu, saya hanya berfikir ini karena Allah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Baha menjelaskan bahwa sikap yang bijaksana dalam menghadapi hinaan adalah dengan memberikan respons yang tidak terduga. Sebagaimana contoh yang diberikan dalam kisah Sayid, bahkan ada yang memberikan uang kepada si penghina. Menurutnya, hal tersebut dilakukan karena penghina dianggap telah memberikan kebaikan dengan mengasah kesabaran dan keyakinan. “Nyatanya, orang kalau dekat dengan Allah, dihina seperti apapun tidak ada efeknya, tidak apa-apa,” tandasnya.
Dalam ajaran Islam, sikap sabar dan memaafkan menjadi kunci penting dalam menghadapi cobaan atau perlakuan buruk dari orang lain. Sikap tersebut membantu seseorang untuk menjaga ketenangan pikiran dan hati, serta membantu melepaskan beban emosional yang ditimbulkan oleh penghinaan. Melalui pemahaman yang mendalam tentang ajaran agama, seseorang juga dapat melihat setiap ujian sebagai peluang untuk memperkuat keyakinan dan meningkatkan kualitas spiritualnya. (**)