MELIHAT INDONESIA, SURABAYA – Tim mahasiswa Universitas Jember (Unej) telah mengembangkan teknologi realitas berimbuh atau augmented reality (AR) untuk digunakan sebagai media belajar fisika.
Inovasi ini tidak hanya menampilkan konsep-konsep fisika dalam bentuk visual yang menarik dan interaktif, tetapi juga mengintegrasikan unsur-unsur dari Alquran.
Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya fokus pada aspek ilmiah, tetapi juga mencakup dimensi spiritual, menjadikan pengalaman belajar lebih menyeluruh dan bermakna bagi siswa.
Penggunaan AR dalam pembelajaran fisika memungkinkan siswa untuk memahami konsep-konsep abstrak dengan lebih mudah melalui visualisasi tiga dimensi dan simulasi interaktif.
Dengan menghubungkan materi fisika dengan ayat-ayat Alquran, teknologi ini juga mendorong siswa untuk melihat ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai spiritual dan moral.
Hal ini diharapkan dapat membentuk pemahaman yang lebih mendalam dan holistik pada diri siswa, serta meningkatkan minat mereka dalam mempelajari sains.
Terobosan ini dianggap sebagai langkah maju dalam dunia pendidikan, khususnya dalam menciptakan metode belajar yang inovatif dan efektif.
Dengan memadukan teknologi canggih dan nilai-nilai agama, tim mahasiswa Unej berharap dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia.
Teknologi AR yang mereka kembangkan tidak hanya berpotensi meningkatkan kualitas pembelajaran fisika, tetapi juga menginspirasi institusi pendidikan lainnya untuk mengadopsi pendekatan serupa dalam pengajaran mata pelajaran lain.
Pengembang media tersebut adalah tim bernama Quranic Sains Media Augmented Reality (QSMART) yang berisi empat mahasiswa Unej, yaitu Jalis Syarifah (dari program studi Pendidikan Fisika), Halimatus Sa’diyah (Pendidikan Fisika), Mohammad Kelvin Rizka Aziizi (Pendidikan Fisika), dan Mochammad Athar Humam Ghazanfar (Teknologi Informasi).
Jalis sebagai ketua tim mengatakan banyak media pembelajaran yang hanya berfokus sains. Hal itu mendorong tim untuk mengembangkan skema belajar yang dikaitkan dengan Alquran. Mereka memanfaatkan AR untuk tujuan tersebut.
“Untuk meningkatkan keimanan dan moralitas siswa, sebagaimana Alquran menjadi pedoman hidup,” kata Jalis dalam keterangan tertulis, Senin, 15 Juli 2024.
Media AR yang dikembangkan oleh tim QSMART memuat objek 3D yang menyediakan kode bar untuk disalin. Dari situ akan muncul audio visual 3D berisi materi sains.
Materi fisika yang dicantumkan ialah Hukum Newton untuk kelas 11 sekolah berbasis Islam. Materi Hukum Newton dipilih lantaran mudah direalisasikan, dan banyak diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.
“Contoh ayat Alquran yang ada dalam AR kami adalah surat Yasin ayat 38 yang membahas tentang peredaran matahari,” tutur Jalis. Ayat itu dihubungkan dengan teori Hukum Newton I tentang benda yang bergerak secara konstan.
Jalis menyebut proyek itu sempat terkendala, terutama dalam tahap perancangan AR. Proses pengolahan kode atau coding, dia mencontohkan, membutuhkan waktu yang lama. Tim QSMART juga harus jeli mengolah pemakaian tiga bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Arab,
“Di bagian Bahasa Arab ini masih sering terjadi error,” kata dia.
Dosen pendamping tim QSMART, Lailatul Nuraini, mengatakan kendala anak didiknya bisa diatasi. Pada akhirnya, coding AR itu bisa disempurnakan. Dia berharap media belajar itu membantu meningkatkan wawasan fisika siswa melalui sudut pandang Alquran,
“Sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan mempengaruhi mereka dalam bertindak di kehidupan sehari-hari,” ucap Nuraini. (**)