Sabtu, April 18, 2026

Sudah Tahu Alasan Ilmiah Kalau di Alun-alun Kidul Jogja Tak Bisa Jalan Lurus?

MELIHAT INDONESIA, YOGYAKARTA – Alun-Alun Kidul, sebuah tempat yang penuh misteri dan mitos, terletak di jantung Kota Yogyakarta. Di sini, dua beringin kembar menjadi simbol sakral yang menyimpan berbagai kepercayaan masyarakat. Salah satu daya tarik utama tempat ini adalah tradisi Masangin, yang menjanjikan terkabulnya keinginan bagi siapa saja yang berhasil berjalan di antara beringin tersebut dengan mata tertutup.

Kekuatan Mitos dan Tradisi Masangin
Mitos Masangin tidak terlepas dari tradisi Topo Bisu yang dilakukan pada malam 1 Suro, di mana para prajurit dan abdi dalem Keraton Yogyakarta melaksanakan ritual melewati beringin kembar dengan tanpa suara. Ritual ini diyakini sebagai cara untuk meminta berkah dan perlindungan dari musuh, dengan keyakinan bahwa beringin menyimpan jimat tolak bala. Mereka yang berhasil melewati beringin dengan mata tertutup dianggap memiliki kemampuan khusus.

Selain mitos, suasana Alun-Alun Kidul juga dipenuhi kerlap-kerlip lampu dari odong-odong dan aroma kuliner khas Jogja seperti wedang bajigur dan cilok, membuat tempat ini semakin hidup dan menarik.

Penjelasan Ilmiah di Balik Mitos
Namun, di balik mitos tersebut, ada penjelasan ilmiah yang menarik. Fenomena psikologis bernama “veering tendency” menjelaskan mengapa banyak orang gagal berjalan lurus saat mencoba Masangin. Ketika mata tertutup, keseimbangan tubuh menjadi terganggu. Secara alami, tubuh cenderung berbelok ke arah dominan, yang berhubungan dengan cara otak dan tubuh kita berfungsi, bukan karena gangguan makhluk gaib.

Kecenderungan ini menunjukkan bahwa ketika seseorang tidak memiliki titik referensi visual, mereka akan kesulitan menjaga garis lurus, yang menjelaskan banyaknya orang yang mengalami kesulitan saat mengikuti ritual ini.

Harmoni antara Tradisi dan Modernitas
Selain itu, ketidakseimbangan tubuh manusia juga memengaruhi kemampuan kita untuk bergerak lurus tanpa panduan visual. Misalnya, jantung yang terletak di sisi kiri dan perbedaan ukuran antara tangan atau mata kiri dan kanan memengaruhi simetri tubuh.

Keseimbangan tubuh bergantung pada kerja sama antara mata, telinga, dan otot. Ketika mata ditutup, titik referensi hilang, sehingga sistem keseimbangan internal yang melibatkan telinga bagian dalam dan sensasi dari otot menjadi sangat penting. Ketidakselarasan antara komponen ini bisa menyebabkan individu berbelok secara tidak sadar, sehingga banyak yang gagal saat mencoba ritual Masangin.

Terlepas dari penjelasan ilmiah, Alun-Alun Kidul tetap menjadi tempat yang kaya akan budaya dan kepercayaan. Tempat ini adalah titik temu antara tradisi dan modernitas, di mana mitos dan kenyataan saling berpadu.

Jika kamu berkesempatan berkunjung ke Yogyakarta, jangan lewatkan untuk mencoba berjalan di antara kedua beringin. Rasakan keajaiban dan adrenalin saat mencoba tantangan ini, dan biarkan diri kamu terhubung dengan sejarah serta warisan leluhur yang kaya.

Dengan kombinasi antara kepercayaan, tradisi, dan penjelasan ilmiah, Alun-Alun Kidul menawarkan pengalaman unik bagi setiap pengunjung. Siapkah kamu untuk menjelajahi mitos dan misteri yang tersembunyi di balik beringin kembar ini? (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.