Kamis, Mei 7, 2026

Kunjungi Tarub, Cabup Tegal Bima Sakti Kenang Masa Kecil dan Tanah Leluhur

MELIHAT INDONESIA, SLAWI – Calon Bupati Kabupaten Tegal nomor urut 1, Bima Eka Sakti yang maju berpasangan dengan calon wakil bupati Muhammad Syaiful Mujab menemukan kembali jejak masa kecilnya saat berkunjung ke Dukuh Tambak, Desa Kedokan Sayang, Kecamatan Tarub, Kamis (7/11).

Bagi Bima Sakti, kunjungan ini bukan hanya ajang sosialisasi, tetapi juga perjalanan bernostalgia di desa yang menyimpan kenangan masa kecilnya.

Desa Kedokan Sayang memang bersebelahan dengan Desa Mindaka, tempat kelahirannya, membuat ikatan emosional Bima terhadap desa ini begitu kuat.

Bersama warga, Bima duduk santai sambil menikmati bakso hangat. Suasana akrab tercipta ketika Bima mulai bercerita tentang masa kecilnya yang sering dihabiskan bersepeda hingga wilayah Dukuh Tambak.

“Dulu, tiap kali main sepeda ke sini, saya selalu diingatkan soal ‘kathil’ atau keranda mayat terbang di daerah Tambak.”

“Memang waktu itu tempat ini masih gelap dan banyak semak-semak, jadi kesan seramnya masih terasa,” ujarnya sambil tertawa.

Warga pun tertawa mendengar cerita Bima, yang bagi mereka menunjukkan bahwa ia bukanlah sosok asing di desa ini.

Kenangan Bima di Dukuh Tambak memperlihatkan kedekatannya dengan desa dan warganya, yang kini tumbuh menjadi tekad untuk membawa perubahan nyata bagi daerah tersebut.

Dalam kesempatan itu, Bima menyampaikan komitmennya untuk memprioritaskan Dukuh Tambak dalam rencana pembangunan Kabupaten Tegal jika terpilih nanti.

Salah seorang warga, Gofar Ismail, menyampaikan kegembiraannya atas kunjungan Bima. Menurutnya, jarang ada calon pejabat yang datang langsung ke Dukuh Tambak.

“Mas Bima ini calon pertama yang datang langsung ke sini, bukan cuma lewat baliho. Saya yakin kalau mau datang ke sini berarti benar-benar mau mendengar kami.”

“Semoga Mas Bima menang dan jadi bupati yang dekat dengan rakyat,” ungkap Gofar.

Kehadiran Bima membawa harapan bagi warga Dukuh Tambak, yang selama ini merasa kurang diperhatikan dalam pembangunan.

Aspirasi warga, mulai dari perbaikan infrastruktur hingga fasilitas umum, disampaikan dengan penuh antusiasme.

Warga merasa bahwa Bima, sebagai putra daerah yang paham kondisi desa, akan benar-benar memperjuangkan kebutuhan mereka.

Bima merespons aspirasi warga dengan tulus, menyatakan bahwa ia memahami kebutuhan Dukuh Tambak dari pengalamannya sendiri di masa kecil.

“Saya punya banyak kenangan di sini, dan itu membuat saya lebih mengerti kebutuhan desa ini. Insya Allah, saya akan memberikan yang terbaik untuk Dukuh Tambak,” katanya dengan penuh keyakinan.

Ia menyatakan keinginannya agar tidak ada lagi desa yang tertinggal, dan semua bisa mendapatkan fasilitas yang layak.

Komitmen ini ia bawa bukan hanya sebagai calon pemimpin, tetapi juga sebagai seseorang yang ingin memberi kembali pada tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Di akhir pertemuan, Bima mengingatkan warga agar selalu menjaga solidaritas dan bersatu demi kemajuan desa.

Momen sederhana ini ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi warga, yang melihat Bima bukan hanya sebagai calon pemimpin, tetapi sebagai seorang teman yang datang dengan niat baik untuk membangun desa mereka.

Napak tilas leluhur di Kajongan

Selain ke Kedokan Sayang, Bima juga mengunjungi Desa Kajongan, yang juga masih di Kecamatan Tarub. Desa ini merupakan asal dari leluhur Bima.

Dalam suasana hangat dan penuh keakraban, Bima menyambung kembali tali kasih dengan masyarakat, melanjutkan warisan nilai keluarga yang lekat dengan Kajongan.

Masa kecil Bima penuh kenangan di Masjid Darussalam, tempat ia sering diajak orang tuanya menunaikan sholat Idul Fitri dan Idul Adha.

Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah bagi Bima, tetapi juga simbol hubungan keluarganya dengan desa ini.

Kakeknya, H. Abusaeri, adalah sosok terpandang yang pernah menjadi anggota DPR RI dan Ketua Kadin Jaya (1985-1988), sementara canggahnya, Mbah Said, merupakan kepala desa pertama di Kajongan.

Seorang warga setempat, Asmawi Ali, mengenang kakek Bima sebagai figur yang dermawan dan dekat dengan warga.

“Tiap kali mudik ke Kajongan, beliau selalu mengundang warga untuk makan bersama dan bersedekah,” ujarnya sambil mengingat kebiasaan yang membuat H. Abusaeri dicintai warga. (*)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.