Wacana pembentukan Pusat Finansial Internasional (Special Financial Center/SFC) kembali mengemuka setelah pemerintah membuka peluang menghadirkan kawasan keuangan berkelas global di Indonesia. Di tengah pembahasan tersebut, Bali dinilai memiliki kesiapan yang lebih tinggi dibandingkan Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk menarik arus investasi internasional.
Perdebatan mencuat setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan IKN belum ideal dijadikan pusat finansial karena aktivitas ekonomi di kawasan tersebut masih belum berkembang secara optimal. Sementara itu, usulan menjadikan Bali sebagai lokasi SFC sebelumnya disampaikan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, dan mendapat respons positif dari Presiden Prabowo Subianto.
Pengamat properti sekaligus CEO Leads Property Services Indonesia, Hendra Hartono, menilai pembangunan pusat keuangan dunia tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik. Menurutnya, terdapat sejumlah syarat mendasar yang harus dipenuhi agar sebuah kawasan mampu bersaing dengan pusat finansial global seperti Singapura, Hong Kong, London, maupun Dubai.
“Tak lupa juga fasilitas izin tinggal melalui sejumlah kebijakan keimigrasian, seperti golden visa yang memungkinkan para HNWI menetap, berbisnis, dan berinvestasi di sektor properti premium,” ujar Hendra, Sabtu (4/7/2026).
Hendra menjelaskan, kepastian hukum, stabilitas politik, insentif fiskal, konektivitas internasional, infrastruktur digital, serta ketersediaan tenaga profesional menjadi faktor utama yang menentukan daya tarik sebuah pusat keuangan global.
Menurutnya, dibandingkan IKN yang masih berfokus pada pembangunan sebagai pusat pemerintahan, Bali memiliki modal yang lebih siap karena telah dikenal sebagai destinasi internasional, didukung kawasan ekonomi khusus, serta memiliki akses penerbangan langsung dari berbagai negara.
Meski demikian, Hendra mengingatkan Bali tetap perlu membenahi sejumlah aspek, seperti transportasi publik, kualitas sumber daya manusia di sektor keuangan, serta persoalan lingkungan agar mampu bersaing dengan pusat finansial dunia.
“Skenario ini mirip dengan strategi pemerintah China yang membangun Shenzhen sebagai kota alternatif pendukung bagi Hong Kong,” kata Hendra saat menjelaskan potensi Batam sebagai alternatif lain untuk pengembangan pusat finansial Indonesia.