MELIHAT INDONESIA – KH Yahya Zainul Ma’arif, atau lebih dikenal sebagai Buya Yahya, memberikan penjelasan mengenai cara bertaubat bagi pelaku zina agar diampuni oleh Allah SWT. Penjelasan ini didasarkan pada teladan Nabi Muhammad SAW ketika beliau berhadapan dengan orang yang mengakui telah melakukan zina.
Zina, dalam pandangan Islam, merupakan salah satu dosa besar yang sangat serius. Zina merujuk pada perilaku seksual yang melanggar norma agama, seperti hubungan di luar pernikahan atau perselingkuhan. Islam menekankan pentingnya menjaga kehormatan dan kesucian dalam hubungan antar lawan jenis serta menghormati pernikahan sebagai satu-satunya landasan yang sah untuk hubungan seksual. Melanggar aturan ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap ajaran agama dan nilai-nilai moral yang diberikan oleh Allah.
Namun, meskipun zina dianggap sebagai dosa besar, ajaran Islam juga menekankan pentingnya taubat dan memohon ampun kepada Allah. Taubat yang tulus dan sungguh-sungguh adalah jalan untuk mendapatkan pengampunan dari Allah, bahkan untuk dosa-dosa yang paling besar sekalipun. Taubat yang benar harus diiringi dengan penyesalan yang mendalam atas perbuatan tersebut, niat untuk tidak mengulangi kesalahan di masa depan, serta melakukan perbaikan dalam perilaku dan sikap.
“Kami himbau, kami ingatkan kepada siapapun yang pernah terpeleset dalam hina dan busuknya zina kembalilah kepada Allah, maulah ditolong oleh Rasulullah,” kata Buya Yahya, seperti dikutip dari kanal YouTube @kalamguruid494.
Buya Yahya menjelaskan bahwa seseorang yang telah berzina seharusnya tidak perlu menceritakan dosanya kepada siapapun, termasuk hakim. “Siapapun yang pernah terpeleset dalam zina harus bisa menutupi. Jangan cerita kepada siapapun dari bangsa manusia, cukup menghadap kepada Allah,” katanya.
Buya Yahya mengisahkan bagaimana Nabi Muhammad SAW menyikapi seseorang yang mengakui telah berzina. Dalam pertemuan tersebut, Nabi tidak langsung menghukum tetapi mencoba memberikan kesempatan bagi orang tersebut untuk menarik pengakuannya.
“Seseorang datang kepada Nabi dan berkata, ‘Aku berzina ya Rasulullah,’ tetapi Nabi tidak langsung menerima pengakuannya. ‘Mungkin kamu hanya menyentuh saja,’ kata Rasulullah. Namun orang tersebut bersikeras, ‘Tidak ya Rasulullah, aku melakukannya.’ Nabi kemudian berkata, ‘Mungkin kamu hanya mencium saja,’ dan lagi-lagi orang itu menegaskan, ‘Tidak ya Rasulullah, aku melakukannya.’ Nabi masih mencoba lagi, ‘Mungkin tidak sampai masuk,’ tetapi orang itu tetap mengakui, ‘Tidak ya Rasul, aku melakukannya.’ Setelah pengakuan keempat kalinya, Nabi Muhammad SAW akhirnya menegakkan hukum kepadanya,” ungkap Buya Yahya.
Dari kisah tersebut, Buya Yahya menekankan bahwa orang yang pernah melakukan zina tidak dianjurkan untuk mengaku ke hakim agar dicambuk. Sebaliknya, taubat yang sejati cukup dilakukan dengan menangis dan menyesal dalam kesunyian, serta memohon ampun kepada Allah. “Cukup menangis dengan serius, di saat tidak ada orang lain yang tahu, di kamarnya yang sempit menangis, maka Allah Maha Pengampun. Tidak perlu dicambuk,” tandas Buya Yahya. (**)