Sabtu, April 25, 2026

Demi Pertemuan Singkat Dengan Presiden Perancis, Prabowo Otak-Atik Situs Sejarah?

Sejarah adalah hal yang diabadikan suatu negara untuk mengenang terjadinya peristiwa tersebut. Terlebih soal peninggalan dari masa lalu, alangkah lebih baiknya diabadikan tanpa harus mengotak-atiknya demi hal yang tidal perlu.

Namun apa jadinya jika situs Candi Borobudur yang terkenal akan banyak anak tangganya harus diberi bangunan starlift?

Ya hal tersebut kini viral terkait pembangunan starlift di Candi Borobudur. Saat dikonfirmasi, pihak istana mulai menjelaskan maksud pembangunan yang mulai dipertanyakan oleh publik tersebut.

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, mengungkapkan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron direncanakan akan menggunakan stairlift untuk naik ke Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.

Menurut Hasan, kunjungan kenegaraan ini memiliki durasi yang terbatas, sehingga diperlukan fasilitas yang dapat mempercepat dan mempermudah akses kedua pemimpin negara tersebut ke candi warisan dunia itu.

“Jadi Presiden Perancis tentu dalam kunjungan kenegaraan waktunya terbatas. Bukan kayak kita kalau liburan ke Borobudur seharian di situ. Waktunya ketat, waktunya terbatas, sehingga juga disiapkan fasilitas untuk memudahkannya agar bisa menapaki setiap tingkat yang ada di Borobudur,” ujar Hasan saat ditemui di kantornya di Jakarta Pusat, Senin (26/5/2025).

Ia menambahkan bahwa pemerintah telah menyiapkan ramp sebagai jalur akses tanpa anak tangga hingga level empat. Selanjutnya, untuk naik dari lantai lima ke lantai delapan—atau setidaknya hingga lantai tujuh—akan digunakan stairlift guna menghemat waktu selama kunjungan.

“Pemerintah menyiapkan ramp, jadi semacam jalan setapak yang tidak pakai tangga untuk sampai level 4. Kemudian juga menyiapkan nanti, namanya apa itu? Stairlift. Stairlift itu kalau di rumah-rumah biasanya dipasang di pinggiran tangga untuk bawa orang untuk naik ke lantai berikutnya. Jadi dari lantai 5 ke lantai 8 mungkin nanti pakai, atau sampai lantai 7 itu nanti pakai stairlift supaya waktunya lebih efisien,” jelasnya.

Hasan menekankan bahwa penggunaan stairlift merupakan langkah praktis agar kunjungan berlangsung lebih nyaman dan efisien. Ia menyinggung bahwa menaiki tangga Borobudur dapat membuat orang kelelahan dan berkeringat.

“Dalam keadaan kecapekan bisa kusut. Ini untuk lebih proper saja sebagai sebuah kunjungan kenegaraan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Hasan menjelaskan bahwa pemasangan stairlift dilakukan di bawah pengawasan Kementerian Kebudayaan, dan tidak menggunakan paku maupun bor agar tidak merusak struktur candi.

“Jadi hanya ditaruh, didudukkan, ditaruh saja. Jadi nanti ketika misalnya itu selesai, itu bisa dibongkar dengan mudah. Jadi untuk kunjungan itu lebih kepada kita mempersiapkan fasilitas yang memudahkan kunjungan Presiden Macron agar bisa menikmati keindahan dan kemegahan Borobudur secara keseluruhan,” imbuhnya.

Di tengah persiapan ini, beredar luas sebuah video di media sosial yang memicu perbincangan publik. Video tersebut menunjukkan dugaan pemasangan eskalator di area struktur Candi Borobudur.

Potongan video yang tersebar di berbagai platform seperti Instagram dan X memperlihatkan adanya komponen yang diduga sebagai penampang eskalator sudah menempel pada batuan candi. Sementara itu, akses wisatawan ke zona I kompleks candi ditutup hingga Kamis (29/5/2025).

Jadi apakah tepat jika situs bersejarah negara kita dimana Candi Borobudur sudah masuk keajaiban dunia, harus ditambah eskalator demi tamu dari negara lain?

Padahal dengan bangunan yang menjadi sejarah itulah negara kita dikenal luas dan membuat bangga, mengapa harus ada perubahan?

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.