Jumat, April 17, 2026

Perpecahan Anak Bangsa di Depan Mata

Oleh : Yoga Bagus Wicaksana

MELIHAT INDONESIA – Era digital adalah suatu era dimana semua serba mudah,bagaimana tidak di era ini untuk membeli sebuah barang atau bahkan berobat bisa di lakukan hanya melalui genggaman, gawai yang dahulu hanya berfungsi sebagai alat telekomunikasi telephon dan pesan singkat kini menjelma menjadi alat serba bisa.

Melalui gawai orang bisa menonton video, menerjemahkan bahasa bahkan menyimpan uang.

Namun sayang dibalik kecanggihan tekhnologi yang serba mudah justru menggusur budaya komunikasi dua arah dimana secara tidak sadar orang orang terbentuk menjadi individu yang individualistis.

Hal ini adalah suatu hal yang menyimpang dari kodrat dimana manusia sesungguhnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi sesama manusia, saling tolong menolong, saling silih, saling asah dan saling asuh.

Dalam interaksi digital kepekaan akan rasa semakin memudar sebab interaksi digital sangat minim sekali bahasa non verbal (kontak mata, ekspresi, intonasi) yang di gunakan.

Hal ini tentu sangat berpotensi terjadinya miss informasi, sebab dengan bahasa non verbal kita tahu kondisi yang sesungguhnya terutama dinamika emosi dari orang yang kita hadapi.

Penerimaan informasi yang tidak tepat adalah benih dari perpecahan anak bangsa, bagaimana tidak akhir – akhir ini banyak konflik digital yang sulit sekali diselesaikan bahkan justru menjadi benang yang makin kusut, mulai dari konflik politik, kasus kriminal seperti vina Cirebon, hingga perdebatan nasab habaib.

Masyarakat awam banyak yang menjadi korban penggiringan opini informasi digital, hal ini semakin parah dengan adanya algoritma AI (artifisial intelejen.

Dimana setiap orang akan dibawa mengikuti emosinya, algoritma ini akan memperuncing fanatisme dari setiap individu misal seseorang sekali saja mengetik kata “Sepatu” dalam mesin pencarian maka seketika dalam media sosial dan platform digital akan selalu di arahkan pada sepatu hingga terus bermunculan iklannya.

Bisa di bayangkan jika setiap orang di arahkan mengikuti emosinya hingga fanatik terhadap kebenaran yang ia yakini sementara di satu sisi budaya komunikasi 2 arah dan budaya konfirmasi telah memudar maka perseteruan akan semakin meruncing, hal ini bisa kita saksikan di media sosial dimana orang orang cerdas dan terpandang sekaliber profesor atau kiai pun banyak yang terjebak dalam algoritma ini, sehingga tak jarang alih alih ingin menyelesaikan konflik mereka justru membuat video reaksi/video klarifikasi yang sebenarnya akan memperuncing konflik dimana video yang mereka buat justru akan menjadi bumerang dalam pertarungan informasi digital. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.