Sabtu, April 18, 2026

Racun di Cangkir, Mikroplastik dalam Teh Celup Ancam Kesehatan Jutaan Orang

MELIHAT INDONESIA, SOLO – Bayangkan, pagi yang seharusnya dimulai dengan ketenangan berubah menjadi awal mimpi buruk. Bukan karena berita buruk di koran atau suara gaduh di luar jendela, melainkan dari dalam cangkir Anda sendiri—sejumput teh celup yang terlihat tak berbahaya ternyata mengandung partikel mikroplastik yang bisa menghancurkan tubuh secara perlahan.

Fakta ini bukan sekadar teori konspirasi. Sebuah penelitian dari ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation), organisasi konservasi lingkungan yang sudah dikenal reputasinya, membongkar kenyataan mengerikan: lima merek teh celup populer di Indonesia terdeteksi mengandung mikroplastik. Partikel jahat ini berasal dari bahan pembungkus teh seperti polietilen (PE) dan nylon—material sintetis yang umum digunakan dalam industri plastik.

Masalahnya bukan sekadar soal limbah, tetapi tentang racun yang Anda telan setiap hari tanpa sadar. Dan semua dimulai saat air panas menyentuh kantong teh.

“Mikroplastik langsung terlepas ketika plastik terkena suhu tinggi dari air seduhan. Partikel-partikel itu lalu bercampur dengan teh yang diminum,” ungkap Ong Lu Ki, S.T., Ph.D., dosen Teknologi Pangan dari Universitas Kristen Petra, Sabtu (19/4).

Ong, yang dikenal aktif dalam riset bahan pangan berkelanjutan, menjelaskan lebih jauh bahwa mikroplastik ini bukan kotoran biasa. Ukurannya kecil, namun daya rusaknya sangat besar. Ia mampu menembus saluran darah, masuk ke organ, dan tinggal di sana.

“Dalam jangka panjang, mikroplastik dapat mengganggu fungsi organ vital, memicu keracunan, bahkan bisa menyebabkan penyakit autoimun,” lanjutnya.

Dengan kata lain, secangkir teh yang diseduh setiap hari berpotensi menjadi dosis racun harian yang mengendap dalam tubuh. Dan karena sifatnya mikro, zat ini tak terlihat, tak terasa, dan tak berbau. Diam-diam merusak.

Yang makin meresahkan, teh adalah minuman sejuta umat. Ia hadir di ruang tamu rakyat jelata hingga meja makan pejabat negara. Ia disajikan dalam arisan keluarga, rapat kerja, hingga takziah duka. Singkatnya, teh bukan minuman biasa, melainkan budaya.

Sayangnya, tak banyak yang menyadari bahwa kemasan plastik tipis pada kantong teh justru adalah biang keladinya. “Kalau kantongnya plastik atau ada lapisan plastik, hampir pasti mengandung mikroplastik,” tegas Ong.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Berhenti minum teh bukan solusi, namun cara mengonsumsinya bisa diubah. Ong mendorong para produsen untuk meninggalkan bahan sintetis dan beralih pada kemasan ramah lingkungan.

“Gunakan kantong dari serat alami yang kuat dan tidak mudah pecah. Atau lebih baik lagi, ciptakan pelapis berbasis bahan pangan, seperti pati termodifikasi atau gelatin,” sarannya.

Teknologi makanan hari ini sudah memungkinkan inovasi seperti itu. Bahkan, lanjut Ong, ada pendekatan edible packaging—bahan pembungkus yang bisa dicerna tubuh tanpa efek samping. Teknologi semacam itu bisa jadi jawaban atas krisis tersembunyi ini.

Namun, hingga perubahan industri terjadi, masyarakat tetap bisa menyiasati risiko. Misalnya dengan menyeduh teh dari daun asli menggunakan teko dan saringan stainless steel. Atau memanfaatkan french press layaknya menyeduh kopi. Alternatif lainnya adalah menggunakan bubuk ekstrak teh yang diproses melalui metode spray drying atau fresh drying, yang bebas dari bahan pembungkus berbahaya.

Langkah-langkah ini mungkin terlihat sepele. Namun dalam perang melawan mikroplastik, keputusan kecil bisa menyelamatkan hidup. Seteguk teh tak seharusnya menyimpan racun. Ia harus kembali menjadi ritual menenangkan, bukan ancaman kesehatan yang mengintai diam-diam. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.